Ramai jadi perbincangan karena belum ada genap satu bulan tahun ajaran baru dimulai, dengan banyaknya kontroversial mengenai kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (atau Mendikdasmenbud) yang mengubah beberapa standard dalam skeolah (terutama sekolah negeri).

Seperti yang banyak diketahui oleh khalayak, bapak menteri kita, Pak Anies Baswedan, sebelumnya pernah menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina dan semakin dikenal karena gerakan Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, Indonesia Menyala dan masih banyak lagi. Pak Anies Baswedan juga seringkali mengungkapkan, baik itu melalui acara offline atau online lewat akun media sosialnya bahwa salah satu hal yang perlu ditanamkan oleh para pendidik (orang tua, guru, dan pustakawan) ialah mengenai budi pekerti. Kalau aku bahasakan sendiri menjadi “to make human more human” sebab sudah menjadi rahasia umum kalau dalam kehidupan yang semakin keras ini manusia semakin tidak manusiawi, lebih sering mementingkan dirinya sendiri ketimbang menjadi toleransi dan menghargai orang lain. Mungkin karena melihat pergesaran dalam bidang itu, maka pak Anies kemudian membuat kebijakan tersebut.

Program Penumbuhan Budi Pekerti

Apabila diperhatikan dari gambar di atas, salah satu yang ditekankan oleh pak Anies ialah membuat para siswa menjadi gemar membaca yang kemudian nantinya, dari tahapan yang ada di gambar tersebut, membuat mereka menjadi memiliki budaya literasi. Perlu diketahui bahwa budaya literasi untuk kalangan yang terpelajar (apalagi berada di kota besar) bukan sebatas bisa membaca dan menulis, melainkan lebih dari itu seperti misalnya bisa mengemukakan pendapat terhadap suatu persoalan, mampu memilah mana sumber referensi yang bisa dipercaya/valid dan mana yang tidak (tentang hal ini akan aku tulis pada kesempatan lain). Itulah yang ingin aku katakan dalam tulisan ini, mengenai membuat para siswa menjadi suka membaca.

Kalau dilihat secara sekilas dari gambar di atas, seakan-akan yang mengemban tugas untuk membuat siswa suka membaca ialah sebatas orang tua dan guru. Apalagi dengan membuat 15 menit sebelum jam masuk sekolah sebagai waktu untuk membaca bebas (free voluntary reading). Pak Anies sudah menjelaskan, siswa boleh membaca apa saja yang disuka, termasuk komik (percayalah, bahwa komik juga merupakan pintu masuk agar anak suka membaca atau bahkan membuat mereka lebih cerdas karena mengaktifkan otak kanan). Namun ada pendidik yang sebenarnya juga perlu diaktifkan dalam kegiatan ini: pustakawan, baik itu pustakawan sekolah ataupun pustakawan di perpustakaan umum (semoga nantinya di Indonesia ada pustakawan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi anak-anak dan remaja/children and youth librarian). Ketiga elemen tersebut mari kita sebut dengan “para pendidik” perlu untuk saling berkoordinasi, saling bekerja sama. Jangan sampai si anak yang selama di sekolah mendapat kebebasan membaca apapun selama 15 menit itu tadi, ketika berada di rumah, para orang tua masih punya pikiran konservatif bahwa yang namanya membaca adalah membaca buku pelajaran. Belum lagi jika koleksi buku si anak hanya sedikit, perpustakaan sekolah hanya buka ketika jam sekolah saja, atau pustakawan yang tidak semuanya bisa memberikan rekomendasi kepada si anak yang tidak tahu harus baca buku apa. Tentu, kalau mimpi buruk itu terjadi, salah satu poin yang ingin dicapai oleh pak Anies tidak akan terwujud.

Secar pribadi, aku setuju jika kegiatan membaca (free voluntary reading/ FVR) itu tadi pada mulanya bersifat paksaan. Paksaan yang tidak menggunakan kata-kata kasar dengan nada membentak atau a la militer. Paksaan yang seharusnya dikatakan dengan intonasi lembut tetapi menggunakan kata-kata persuasif seperti agen-agen pemasaran masa kini. Tentu, hal tersebut akan lebih diterima si anak. Pustakawan bekerjasama dengan pihak sekolah minimal bisa menambah jam buka perpustakaan, misalnya saja hingga pukul 16:00 WIB sehingga siswa atau si anak yang tidak sempat ke perpustakaan ketika jam istirahat masih bisa mengakses koleksi yang ada disana. Buat apa banyak koleksi tetapi tidak pernah diakses oleh siswa? Pustakawan juga bisa bekerjasama dengan penerbit untuk mengadakan buku-buku yang sekiranya sesuai dengan para siswa. Ambil contoh, perpustakaan mengadakan buku genre fiksi populer seperti The Hunger Games, Divergent, Looking for Alaska, atau buku-buku lain yang tengah digemari oleh anak-anak.

Akan tetapi jangan lupa juga, seperti apa kata orang, kalau ingin mengenal patronmu (penggunamu) maka kamu harus berpikir seperti mereka. Bagaimana pustakawan bisa mengerti mana yang cocok dengan para siswanya jika pustakawan sendiri tidak mau menjadi bagian dari mereka? Bagaimana kehadiran perpustakaan dan pustakawan sekolah bisa diterima oleh siswa jika tidak “neymplung” di dalamnya? Perkembangan teknologi dan koneksi internet yang mudah didapatkan di kota besar bisa dijadikan modal untuk bercampur dengan komunitas anak muda saat ini, mengetahui bagaimana mereka mengartikulasikan budaya populer seperti bacaan fiksi sehingga pustakawan bisa tahu mana-mana saja buku yang sekiranya akan disukai oleh anak-anak. Novel Lupus memang merupakan novel remaja, tetapi buku itu terkenal saat zamannya, belum tentu semua siswa mau membacanya. Berbeda ketika perpustakaan bisa mengadakan judul-judul buku yang tengah diangkat ke layar lebar. Tanpa perlu berusaha terlalu keras untuk berpromosi, aku rasa si anak pasti mau membacanya.

Maafkan jika aku berbicara agak kasar, tapi bagiku, pustakawan yang ingin mendukung gerakan yang diinisiasikan oleh pak Anies minimal harus gaul. Memiliki akun di beberapa platform media sosial untuk bisa mendalami patron mereka. Dan mungkin saja, si anak tidak memandang pustakawan sebagai sosok yang menakutkan, yang hanya bisa berkata “sshhhh!!” tetapi juga bisa diajak mengobrol, berdiskusi mengenai buku-buku kekinian yang sekiranya bisa dibaca oleh patronnya secara langsung ataupun melalui platform media sosial.

Mengaktifkan pustakawan bukan berarti menunggu hingga pihak sekolah “memanggil”, melainkan akan lebih baik jika pustakawanlah yang bergerak terlebih dahulu, bergerak dengan banyak inisiatif atas nama membuat para siswa ini, para generasi penerus bangsa, punya budaya membaca dalam dirinya. Asal tahu saja, jika seseorang punya budaya membaca, atau minimal menjadi gemar membaca terhadap semua genre bacaan, mereka akan menjadi lebih manusia ketimbang keadaan manusia saat ini (more human). Mereka jadi lebih bisa berpikiran terbuka, lebih toleran, dan hal-hal positif lain (silahkan googling sendiri manfaat dari membaca buku). Maka dari itu tidak heran jika pak Anies memasukkan pembudayaan membaca ke dalam bagian program “Penumbuhan Budi Pekerti”.

Here I say, I stand with “Penumbuhan Budi Pekerti” program. Dan sebagai calon pustakawan anak dan remaja, kalian bisa menghubungiku via LINE (id: hzboy1906) kalau ingin mendapatkan rekomendasi buku yang sebaiknya kalian baca 🙂

Cek juga, blog pustakawan inspiratif berikut ini: Luckty (She is one of Indonesia’s great librarian ever!!!)

— August 7, 2015

2 thoughts on “15 Menit Membaca Buku dan Program Penumbuhan Budi Pekerti

  1. Hi Mbak Hes.
    By the way mau cerita aja. Libur sekolah+lebaran kemarin seluruh siswa SD hingga SMA memang mendapat tugas membuat rangkuman dari buku yang mereka baca. Dan adikku yang duduk di bangku SMA mendapat tugas untuk merangkum 10 buku. Jumlah yang sangat banyak menurutku dalam waktu 1,5 bulan. Yah meskipun kalo semisal aku yang dapet tugas itu aku nggak akan kesulitan. Tapi adikku jelas kesulitan Mbak Hes. Alhasil, dia lebih banyak memilih novel yang pernah difilmkan dan baca-baca review orang di internet.

    Terus kebanyakan Ibu-Ibu ternyata nggak suka dengan tugas yang diberikan kepada anak-anaknya. Karena mereka merasa bahwa membaca dan menceritakan kembali isi novel itu nggak bermanfaat banget. Aku yang terjebak dalam obrolan itu hanya bisa diam dan senyum-senyum ._. Menurut beliau-beliau, lebih baik anak-anaknya ini disuruh baca buku pelajaran dan merangkum isinya. Sekalian sama belajar katanya. Dan di dalem hatiku ‘duh males banget’. Hwkwkwk.

    Dan tulisan Mbak Hes yang bilang kalo komik itu adalah pintu masuk anak suka membaca, itu bener banget. Aku adalah pembaca novel yang terlahir dari membaca komik. Sekarang malah nggak baca komik sama sekali (kecuali dipaksa adek baca komik di webtoon –“

  2. Pingback: Masuk Kompas & Buku Potret Pendidikan Maluku | Steven Sitongan

What Do You Think?