Aku dulu pernah mencoba menjalankan sebuah komitmen yang ternyata harus kandas di tengah jalan. Tepatnya ketika sudah memasuki semester 5 hingga semester 6. Di masa-masa seperti itu, dulu, adalah masa dimana kuliah sudah memasuki fase untuk mempersiapkan materi penelitian. Belum lagi tugas dan laporan magang. Mengetahui apa-apa saja yang akan aku hadapi, aku sempat mencoba untuk tidak aktif di kegiatan organisasi ataupun komunitas. Alias, aku ingin total dalam studiku saja.

Apa yang terjadi? Ternyata gagal. Aku tidak bisa hanya berkegiatan di bidang akademik saja. Selesai kelas, langsung mengerjakan tugas. Tidak ada kegiatan di lain tempat atau urun ide dalam komunitas. Alhasil, ketika memasuki semester 7, aku kembali lagi pada rutinitasku yang padat: kuliah, kerja, dan “bermain”. Melompat dari satu tempat ke tempat yang lain. Aku berasumsi, ternyata otakku tidak bisa diminta hanya memikirkan satu hal saja. Rasanya masih ada sela-sela yang bisa diisi dengan mengurus hal lain.

Aku mengikuti banyak kegiatan (bisa dicek di profil LinkedIn-ku). Dari yang awalnya hanya merupakan caraku untuk memperluas koneksi hingga aku berkontribusi karena memang suka dengan topik yang diperbincangkan dalam komunitas tersebut. Hingga aku sudah bekerja (dimana saat itu aku juga tengah mengerjakan skripsi), aku masih aktif dalam beberapa kegiatan. Banyak orang yang bilang, “Hesti sibuk banget sih sampai nggak ada waktu buat ketemu kita”. Tidak jarang, rasanya aku harus mencoba menjadwal beberapa permintaan untuk sekedar nongkrong. Mencoba agar kewajibanku untuk belajar dan bekerja tidak mengganggu kebutuhanku untuk bersosialisasi. Tidak sedikit juga yang penasaran apa yang membuatku mau berkegiatan begitu banyak, mondar-mandir kesana kemari.

Bahan Bakar yang Namanya Tekad

Seiring dengan berjalannya waktu, keinginan yang awalnya hanya karena ingin memperluas koneksi kemudian menjadi suatu obsesi. Menjadi suatu tekad. Hal tersebut tidak hanya karena aku bertemu dengan banyak orang dan mendengar kisahnya. Tidak hanya karena aku menonton video TED. Faktor yang lain adalah karena aku gemar membaca. Endapan pengetahuan yang sudah tertimbun di dalam otakku, kemudian saling terhubung satu sama lain. Mencoba membentuk suatu alasan logis mengapa aku mau terus bekerja keras. Mengapa aku bersedia memiliki sebuah mimpi besar (meskipun bagi sebagian orang, aku bisa menjadi lebih dari sekedar seorang pustakawan saja).

Dorongan itu semakin logis sejak aku membaca buku Lean In karya Sheryl Sandberg. Secara tidak sengaja membaca rekomendasi dari salah satu majalah. Rating di Goodreads-pun juga tidak mengecawakan. Dan benar saja, dari situ aku mendapatkan banyak insight yang hingga kini menjadi alasanku mengapa aku akan terus berusaha untuk mengejar apa yang sudah aku cita-citakan.

Dalam bukunya, Sandberg menjelaskan kalau wanita juga punya kesempatan yang sama dengan pria: untuk menjadi ambisius, untuk menjadi pemimpin. Di era yang sudah modern (bahkan sudah postmodern), sistem patriaki masih saja dianut. Wanita masih dipandang sebelah mata jika didapuk menjadi pemimpin. Yang katanya tidak akan adil, yang katanya hanya memainkan perasaan saja dalam mengambil keputusan, dan masih banyak lagi alasan untuk menjatuhkan wanita dari jabatan yang tertitnggi. Tidak jarang yang melontarkan kata-kata itu adalah kaum wanita juga. Padahal, sudah seharusnya sesama wanita adalah saling mendukung dan saling menguatkan.

Tekad ini begitu kuat. Dari banyak kasus yang pernah aku hadapi, baca, lihat, dan dengar, di Indonesia misalnya, masih saja banyak wanita yang terus menjadi korban kekerasan. Baik itu verbal maupun non-verbal. Sekalinya seorang wanita menjadi kuat, baik itu melalui jabatan atau hal lainnya, masyarakat pun akan memberikan penialain yang negatif. Yang paling mudah dengan mengatakan, “buat apa sekolah tinggi-tinggi, nanti kerjanya juga di dapur?” atau “tidak perlu jadi wanita karir kan nanti ada suami”. Sesungguhnya aku sendiri tidak setuju. Ragam penilaian terhadap wanita yang seperti itulah yang juga memperkuat tekadku.

Wanita bukan “Budak” Pernikahan

Aku dibesarkan dalam lingkungan dimana ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tapi jangan salah. Ibuku aktif dalam beragam kegiatan sosial. Bahkan kami terlihat sama-sama sibuk. Aku ingin seperti ibuku. Tetapi bukankah akan lebih baik jika seorang anak bisa menjadi lebih dari orangtuanya? Bukan berarti orangtuaku bukanlah orang yang baik ya. Tentu. Aku punya keinginan yang lebih besar.

Modernitas seharusnya bisa mendorong cara pikir manusia untuk menjadi lebih maju. Kita sudah tidak lagi hidup dalam masa-masa dimana wanita hanya berada di dalam rumah dan mengurus printilan keluarga saja. Wanita juga bisa mendapatkan rekan yang sama (equal partner) untuk hidup tanpa perlu mereduksi impiannya. Dan bukankah (calon) rekan yang baik adalah mereka yang tidak terintimidasi dengan apapun cita-cita wanitanya?

Seperti apa yang aku lakukan kini. Semakin jelas bahan bakarnya: aku ingin membuktikan kalau wanita juga bisa melakukan perubahan untuk lingkungan sosialnya. Bagaimana? Dimulai dari kegiatan dan aktivitas yang tidak hanya berkutat di rumah saja supaya wawasannya luas. Wanita memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya. Termasuk mendapatkan pendidikan setinggi apapun yang ia mau, mengejar karir sebesar apa yang pernah dia impikan.

Mengutip tulisan Henry Manampiring dalam bukunya, The Alpha Girl’s Guide, apabila wanitanya berani mengejar impiannya, seharusnya pria juga tidak akan tinggal diam untuk tidak mengembangkan kemampuan. Wanita yang seperti itulah yang sedang aku perjuangkan. Termasuk ketika aku menulis tulisan ini. Dengan keberadaanku di Rumah Perubahan dalam program RKMentee aku ingin mengasah apa yang sudah ada dalam diriku untuk melompat lebih tinggi. Sekaligus membutikan kalau kaum wanita juga bisa menjadi sosok yang mandiri tanpa harus bergantung dengan rekannya. Mewujudkan apa yang sangat sering aku ucapkan: untuk menjadi pustawakan anak dan remaja untuk Indonesia. Untuk mewujudkan generasi Indonesia Emas yang berliterasi.

Dan ingat, ketika seorang wanita menjadi “berbahaya”, maka tidak akan ada pria yang berani untuk sekedar bermain-main dengan hatinya. Ya. Kamu jangan sampai pernah bermain hati dengan wanita yang sudah punya visi dan misi jelas. Yang ada, kamu akan menyesal. Sangat menyesal.

— February 12, 2016

2 thoughts on “Bahan Bakar Diri Tidak Hanya yang Namanya “Passion”

  1. Luar biasa tulisannya. Saya jadi terinspirasi. Great writing!

  2. Kereeen hes. Ngera ngeri last statement nyaaa lol

What Do You Think?