Lama sekali rasanya tidak menulis tentang kehidupan sebagai RKMENTEE ya? Well, I’ve survived the first year and now I am in my second year! Senang bisa membuktikan diri kalau diri ini ternyata sanggup menjalani tahun pertama. Ditambah pula sekarang sudah menjadi “kakak senior.” Yep, RKMENTEE angkatan ketiga sudah bermukim di Rumah Perubahan. Nanti ya. Nanti akan aku ceritakan bagaimana perjuangan kami (RKMENTEE 2015 & RKMENTEE 2016) membuat acara sekaligus sistem seleksi untuk RKMENTEE 2017. Tapi pertama-tama, marilah aku menceritakan efek dari setahun berada di Rumah Perubahan sebagai mentee-nya Prof. Rhenald Kasali.

Survive by being agile

Dalam beberapa tulisan, aku pernah mengatakan kalau kami di sini seperti dilemparkan begitu saja di sebuah kolam. Ada kolam yang terukur dan ada yang tidak terukur. Apa yang harus dilakukan pertama kali? Ya, mencoba bertahan. Entah dengan menirukan gaya berenang atau malah minimal tetap bisa menahan kepala dari permukaan air. Alias, harus berbuat sesuatu. Kami kemungkinan besar akan tenggelam apabila tidak berbuat apa-apa.

Dalam hal ini, kami bisa “mati” jika tidak agile (lincah).

Menjadi agile itu sangat luas maknanya. Kalau mau membaca yang versi “berat”, kamu bisa coba buku Agility: Bukan Singa yang Mengembik (Kasali, 2014). Sederhananya adalah, kita sebagai manusia harus tanggap dengan kondisi apapun. Harus bisa bertindak cepat dan segera begitu menyadari ada yang berubah dari keadaan stabil (zona nyaman).

Dan itu terjadi pada kami, para RKMENTEE.

Kami awalnya digembleng dengan berbagai macam kritikan. Seperti mengenai kegesitan dan kelincahan ketika mendapatkan tugas atau turun ke lapangan sebagai road manager. Ingat, tentu yang pertama adalah yang paling susah. Tapi bukan berarti mustahil untuk menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan. Karena tidak berasa itulah, kami perlahan-lahan jadi lebih agile dari sebelumnya. Teguran yang kami terima, nyatanya malah membuat kami bisa menjadi lebih cepat dalam melakukan sesuatu sehingga begitu melihat orang lain yang (maaf) kerjanya agak lambat, rasanya kesal setengah mati.

Agile to absorb the information

Yang namanya menjadi lincah bagiku (terutama) termasuk ketika menerima informasi. Tidak hanya asal diterima, melainkan juga dipilah antara mana yang memang perlu dan mana yang tidak begitu penting. Mana yang tendensinya negatif dan mana yang punya potensi positif.

Kebiasaanku membaca berubah ketika menjadi RKMENTEE. Kesibukan kami yang lebih sering tidak terduga tersebut sempat membuat waktu membacaku kacau. Hingga akhirnya aku mendisiplinkan diri untuk membaca selama minimal satu jam setiap pagi sebelum bekerja. Rekan-rekan di kantor sudah tahu kalau aku selalu datang pukul 07:00 pagi dan menggunakan waktu satu jam sebelum mulai bekerja untuk membaca. Membaca yang aku lakukan adalah reading for pleasure. Alias memenuhi keinginan membaca akan topik-topik yang aku minati. Atau bahkan buku-buku fiksi yang sedang ingin aku “masuki.” Bukan membaca untuk urusan pekerjaan.

Bagaimana kalau ternyata pagi itu tidak bisa membaca? Aku harus menggantinya di jam lain tapi tetap di hari yang sama. Pendisiplinan tersebut tentu sulit. Mulanya aku bisa tidak membaca sama sekali. Tapi, sejalan dengan konsep agile yang diajarkan oleh mentor kami, Prof. Rhenald Kasali, aku bisa sedikit bernegosiasi untuk tetap mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Informasi mengenai topik yang sedang aku minati (seperti mengenai feminisme, mindset, dan topik pengembangan manusia lainnya). Hingga aku menyadari kalau mengabsorbsi informasi ternyata tidak hanya lewat membaca.

Watch and listen consider as reading

Kalau diartikan secara konvensional, yang namanya “membaca” selalu dikaitkan dengan buku, majalah, koran, dan media cetak pada umumnya. Aku juga sempat begitu. Entah melalui buku atau e-book reader, aku mengatakan kegiatan mendapatkan informasi tersebut sebagai membaca. Oh, termasuk membaca artikel di media online.

Lalu kemudian cara pandangku berubah sedikit demi sedikit. Aku dan rekanku kebanyakan mengisi chat kami di LINE ataupun Facebook Messenger bukan lagi dengan sekadar bertanya “sedang apa?” atau “sudah makan?” saja. Melainkan, kami sering bertukar tautan artikel hingga video-video yang kami rasa memiliki konten berkualitas. Dan menginginkan agar dari berbagi tautan tersebut timbul sebuah diskusi.

Dari situ pula aku sadar, menonton video edukatif seperti TEDx Talk atau TED Ed juga bisa dimasukkan ke dalam membaca. Bahkan belakangan ini, karena sedang sangat sibuk dan kepala butuh diisi informasi tentang topik yang aku suka, aku pun memutuskan untuk mendengarkan podcast sembari mengerjakan tugas-tugas harian.

Apa aku bisa memahaminya? Tanpa disangka-sangka ternyata bisa juga. Pembiasaan untuk menjadi agile pun ternyata berimbas pada tahap penyerapan dan pengelolaan informasi dalam diri. Oh iya, menjadi agile bukan berarti tidak memiliki fokus. Melainkan bisa membagi fokusnya dengan baik. Bisa menjadi mindful di setiap pekerjaan yang sedang ditekuni. Tidak mungkin? Bukan. Hanya belum terbiasa dan belum dibiasakan saja.

Semua kebiasaan itu akan sulit untuk dilakukan di saat pertama, kedua, bahkan hingga ketiga. Tetapi jika kita memaksakan diri (menggunakan self-discipline) untuk terbiasa, pasti akan menjadi semakin mudah sebab sudah bergerak secara otomatis. Alhasil, kegiatanku setiap hari yang awalnya hanya membaca saja bisa menjadi beragam tanpa meninggalkan kewajiban.

Bahkan jika aku berada di asrama. Antrean mandi bisa aku manfaatkan untuk membuka aplikasi Pocket, membaca artikel yang sepertinya menarik. Atau bisa langsung membuka channel YouTube TEDx atau TED Ed. Tiba di kantor pukul 07:00 langsung menuju roof top. Melanjutkan membaca buku. Mengakses podcast yang ada di SoundCloud ketika bekerja. Membuka portal berita, Pinterest, Pocket atau YouTube untuk jeda sejenak. Nyatanya, aku masih bisa-bisa saja untuk menerima informasi dan mengelolanya. Kembali lagi, itu karena aku terbiasa untuk menjadi agile, seperti yang selama ini dilatih di dalam pribadi RKMENTEE.

Jadi, jangan heran kalau aku berani menargetkan untuk membaca 100 buku. Semakin kepalaku terisi oleh informasi, semakin besar keinginanku untuk membaca lebih banyak buku, mendengarkan lebih banyak podcast, dan menonton lebih banyak video TEDx.

Bagaimana denganmu?

— February 16, 2017

2 thoughts on “Being RKMENTEE Help Me to Absorb More Information

  1. Hai, salam kenal..
    I dunno if u have a time to reply my question, sy tertarik dgn post di atas, bbrapa sudah saya coba, tantangan yang saya temukan adalah ingatan, mungkin krn bnyk mengakses informasi dalam seharian, seringkali hal ini sy rasa tidak efektif. punya tips g gimana yah caranya biar apa yg kt “baca” itu lebih memorable?

    • Halo! Semua itu intinya adalah dilatih. Memang awalnya akan sulit, tapi harus dipaksa untuk terbiasa. Mulainya bisa dengan memaksakan diri untuk fokus dengan apa yang sedang dibaca. Kalau hal tersebut sudah bisa dikuasai dengan baik, maka selanjutnya akan terasa lebih mudah. Dan mulai bisa untuk multitasking. Semangat! 🙂

What Do You Think?