I guess every one experienced broken heart. Fase patah hati yang bisa saja berbeda-beda setiap individu. Ada yang cukup sekali saja dan kemudian bangkit. Dan ada juga yang butuh berkali-kali untuk akhirnya bisa berdiri lebih tegak.

Tidak sedikit orang yang mencari cara untuk sembuh dari broken heart-nya. Dimulai dari Googling, cari kesibukan lain, hingga berusaha memaafkan. How to mend a broken heart, juga merupakan frasa  kunci yang sering digunakan dalam mesin pencari. Dari kejadian broken heart, seseorang bisa memilih: untuk terus terpuruk atau untuk membalas dendam menjadikannya sebuah karya. Misalnya: Taylor Swift yang sekalinya putus cinta, langsung melejit dengan album barunya. Pun, sama dengan Adele. Tapi, benarkah yang namanya broken heart selalu harus berakhir dengan kesadaran bahwa banyak waktu yang terbuang?

Broken Heart is not Literally Broken

Ketika membicarakan apa itu patah hati/broken heart, orang-orang pasti banyak yang mengasosiasikannya dengan putus cinta, cinta yang tidak bisa memiliki, atau cinta yang tidak terbalas. Dan kalau membahas cinta, ya selalu korelasinya tidak jauh dari yang namana jodoh/ pasangan hidup. Padahal, broken heart tidak selamanya tentang your soulmate. Melainkan bisa berupa hal-hal yang lain. Seperti misalnya, dikasih harapan palsu oleh abang G*-Jek. Sudah sabar menanti si abang tiba menjemput, lah kok di-cancel secara sepihak? Ya itu juga terhitung patah hati. Bisa juga, sudah nunggu dosen pembiming sampai skip jam makan siang, yang ditunggu ternyata tidak jadi datang. Sama. Itu juga termasuk patah hati.

Tapi karena yang berhubungan dengan abang G*-Jek dan dosen pembimbing hanya butuh waktu sebentar untuk “berdamai dengan keadaan”, jadilah broken heart seputar kisah asmara punya pemahaman sendiri.

Dan sebenarnya, broken heart itu bukan patah. Hanya, diri kita merasa kecewa karena apa yang sudah kita bayangkan dan harapkan tidak terealisasi. Alias, kita belum bisa mengatur ekpektasi (managing expectation). Mungkin, karena rasanya nyesek ketika tahu yang sebenarnya, muncul idiom “patah hati/broken heart.” Lalu, sekalinya kita patah hati dengan seseorang (bukan abang G*-Jek atau dosen ya), kita akan berusaha untuk memiliki intensitas bersinggungan seminimal mungkin. Malah kalau bisa tidak ada singgung-menyinggung sama sekali.

The Hardest Phase Ever, Huh?

Saat seseorang menhadapi yang namanya broken heart phase, ia akan merasa kalau hari-harinya terasa berat. Sedikit saja ada pemantik yang mengingatkannya kepada penyebab patah hati tadi, sangat bisa terjadi mood-nya langsung berubah. Gloomy and sad. Dari patah hati, semangat rasanya menguap entah kemana. Tidak mau melakukan apapun. Seperti orang yang berduka. Wajar kalau masih dalam hitungan seminggu atau dua minggu, tapi kalau sampai hitungan bulan bahkan tahun? Seriously, no need anyone to help you to lift you up? Atau mungkin sudah banyak orang yang membantu kamu bangun tapi kamu yang terlalu bebal untu mendengar dan mencoba? Yang membantu bisa jadi kesal dan…patah hati juga, perhaps?

Aku pribadi masih merasa bahwa fase patah hati tidak begitu membuat nysesk kalau dibandingkan dengan fase hidup yang lain. Seperti harus survive di tanah rantau. Namun, beda ceritanya kalau di tanah rantau kamu masih harus berhadapan yang namanya patah hati. Nyesek yang double.

But, Every Phase, Every Person Brings Us New Lesson

“Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua itu ditakdirkan” – XXX Holic

Kurang lebih seperti itu yang dikatakan oleh Yuko, pemeran utaman dalam manga & anime XXX Holic. Kutipan itu yang kemudian sebaiknya bisa diilhami untuk bisa lebih legowo  menerima keadaan. Ketika seseorang mengalami fase patah hati, pasti pernah terbesit dalam benaknya, “Coba kalau aku tidak kenal dengan dia. Aku tidak akan sesakit ini.”

Well, tentu setiap orang bisa berbicara seperti itu. Hanya saja, yang perlu kita sadari adalah semua orang yang bersinggungan dengan kita, baik itu membuat patah hati atau tidak, sesungguhnya membuat kita belajar hal baru: bow to manage expectation with “this” kind of person. Bagaimana caranya kita mengelola emosi, perasaan, dan ekspektasi kita terhadap manusia tipikal tertentu. Apa gunanya? Ya supaya tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Atau sekalipun harus berhadapan dengan orang yang karakteristiknya serupa, rasa sakit hatinya bisa diminmalisir.

Konklusinya adalah, fase patah hati sebenarnya juga tidak buruk-buruk amat. Perasaan patah hati itu yang buat kan kita sendiri. Kalau kita dari awal mau memaafkan, fase patah hati tadi hanya perlu dilalui dalam waktu sebentar. Tidak perlu berlarut-larut atau bahkan butuh bertahun-tahun. Atau sampai membuat orang lain, harus ikut patah hati juga.

— December 11, 2016

3 thoughts on “Broken Heart Phase

  1. Broken links breaks my heart more than broken relationships. Sometimes. Depends on the relationships, I guess.

What Do You Think?