Seberapa sering kita bercermin? Mencatut pakaian. Mencocokkan apa yang sudah kita bayangkan dengan stok yang ada di lemari. Alih-alih dipakai ke luar rumah, yang ada malah mengurungkan niat. Alasannya kadang sederhana: tidak percaya diri.

Begitu pula ketika mencoba sepatu. Bahkan riasan. Sebagian besar dari kita pasti senang bereksperiman. Coba kalau baju ini dipadukan dengan sepatu itu dan riasan yang dipelajari dari Youtube. Diabadikanlah dandanan lengkap tersebut melalui gambar. Meskipun tidak menuju kemana-mana, paling tidak gambarnya bisa diunggah di akun media sosial kita.

Berapa dari kita yang mengiyakan pernyataan-pernyataan di atas?

Sayangnya, yang tidak mengaplikasikannya di jalanan pun juga banyak. Menandakan bahwa ada faktor lain yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan untuk tampil seperti apa yang diinginkan.

Sebuah Standar Sosial

Munculnya rasa tidak percaya diri tersebut salah satunya adalah karena tampilan yang ingin diekspresikan tidak sesuai dengan standar sosial tempat kita berpijak. Apakah itu secara nilai (values) atau bahkan karena kesepakatan anggota (misal: suatu kelompok tertentu mengenakan atribut khusus sebagai simbol). Sudah pasti mudah ditebak, apabila seseorang berpenampilan tidak sama dengan sekitarnya, yang terjadi ialah munculnya tatapan sinis yang mengarah intimidatif, kasak-kusuk orang-orang yang mengarah pada asumsi negatif, dan tentu saja akan dikucilkan.

Ilustrasi sederhananya seperti ini. Seorang perempuan di lingkungan yang mengenakan rok setiap hari tiba-tiba pada suatu hari mengenakan celana. Celananya pun tidak yang warna hitam polos, melainkan berwarna cokelat dengan motif kotak-kotak. Pakaiannya pun juga bukan kemeja, melainkan peplum top berwarna kuning kunyit. Tetangganya pun akan kaget. Dari tatapan yang kurang mengenakkan hingga munculnya kabar-kabar burung, sangat mudah terjadi. Perempuan tersebut kemudian merasa dihakimi karena penampilannya.

Berbicara mengenai standar sosial sebenarnya akan banyak menimbulkan diskusi-diskusi kecil. Apalagi kalau erat kaitannya dengan norma dan nilai yang diusung dalam suatu wilayah. Tetapi, apakah benar kita tidak bisa menjadi diri kita apa adanya?

Cantik adalah Definisi Kualitatif

Dalam salah satu episode drama Jepang yang aku suka, Galileo, si tokoh utama pernah mengatakan bahwa seseorang yang sedang diincar olehnya merupakan orang yang biasa-biasa saja. Sedangkan rekannya berkata bahwa orang tersebut cantik. Tokoh utama langsung berdebat dengan mengatakan kalau orang yang cantik memiliki jarak antar mata sekian sentimeter, panjang hidung sekian sentimeter, dan seterusnya. Yang mana si tokoh utaman menyebutkan kalau kecantikan wania memiliki ukuran yang saklek. Tentu saja hal ini ditentang oleh rekannya.

Sama seperti kita saat bercermin mengenakan baju yang sudah ada di kepala, akan cocok jika kita pakai. Namun, saat mencoba ke luar rumah, hang out, yang ada malah menyalahkan diri sendiri. Tidak percaya diri karena minder dengan sekelilingnya. Seketika merasa tidak cantik dan emosi pun menjadi sedih.

Akan tetapi, apabila diingat, kata “cantik” sebagai kata sifat merupakan hal yang tidak dapat diukur, tidak memiliki satuan. Sangat mungkin seseorang merasa tidak cantik, namun kata orang malah sebaliknya.

Video dari Dove berikut ini mungkin sudah sering kalian lihat, tapi pesan yang disampaikan begitu kuat: kita membiarkan diri kita dimasuki oleh opini-opini negatif akan kecantikan sendiri.

Aku sering juga mendengar ada ocehan yang mengatakan, “ya wajar kalau dia cantik. Perawatan kulitnya itu lo, mahal!” dan ungkapan-ungkapan lainnya. Memang sih, hal-hal tersebut bisa mempengaruhi, tapi aku yakin, kecantikan itu bersifat kualitatif. Pengukurannya berdasarkan preferensi masing-masing. Tanpa adanya perasaan bahwa dirinya cantik, bagaimana bisa memunculkan rasa percaya diri untuk menjadi diri sendiri?

Tubuhku Otoritasku

Mengutip dari salah satu campaign di media sosial, Tubuhku Otoritasku adalah sebuah campaign nyata yang menggambarkan apa rasanya mengekspresikan diri sendiri. Tubuhku Otoritasku sebenarnya tidak hanya soal bagaimana seseorang berpakaian melainkan juga apapun yang terkait dengan hak-hak seseorang terhadap tubuhnya sendiri (semoga aku bisa menjelaskan hal ini di tulisan berikutnya ya).

Ketika seseorang berpakaian yang dia inginkan, maka sebenarnya dia adalah sosok yang berani mengatakan “tubuhku otoritasku.” Tidak peduli cibiran dan tatapan orang lain, dia merasa bahwa pakaian yang ia kenakan merupakan hak dari apa yang seharusnya dia dapatkan. Otomatis, tidak ada seorang pun yang bisa mengatur-atur untuk tidak mencintai dirinya sendiri, dengan mengatakan, “kamu itu nggak pantes pakai baju itu.” atau mengatakan “nggak cantik aja pakai baju yang lagi tren.”

Ingat! Siapalah kita ini.

Kita lah pemilik sepenuhnya dari tubuh kita. Jangan sampai kita merasa bahwa tubuh kita bisa digoda dengan cat call nakal (yang masih sangat marak di Indonesia) ataupun dijelek-jelekkan. Sebab sesungguhnya, pemahaman akan mencintai diri sendiri juga termasuk tidak memperbolehkan orang lain untuk melecahkan diri kita.

Sekali lagi, karena we dress to appreciate my body, not to impress other.

— March 8, 2017

What Do You Think?