Setelah tulisanku mengenai what I am really doing as RKMentee, ternyata masih banyak yang pensaran. Sebenarnya my daily tasks itu apa saja sih? Aku masih sering mendapatkan pertanyaan di salah satu akun sosial mediaku mengenai apakah menjadi RKMentee berarti menjadi seorang karyawan? Atau memang seseorang yang melakukan pembelajaran?

Bisa dibilang, kehidupanku beberapa bulan lalu memang penuh dengan lika-liku, ups and downs. Bagaimana tidak, kalau dianalogikan dengan orang yang baru belajar berenang, aku ini sudah pada tahap dibiarkan tenggelam di kedalaman. Intuisi makhluk hidup apapun itu adalah pasti mencoba untuk survive. Iya kan? Pekerjaan sebagai road manager atau seorang asisten ini ternyata butuh keahlian sendiri. Tentu saja, mengarjakanku untuk tidak hanya sekedar tahu (knowing) melainkan untuk pernah mengalaminya sendiri (being) sehingga mengerti tindakan apa saja yang sebaiknya diambil apabila berada dalam satu titik tertentu.

Memangnya, asisten harus bisa apa sih? Mau tidak mau, kamu harus bisa melakukan hal-hal super karena tuntutan pekerjaan bisa lebih hectic dari permintaan Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso.

Kurang lebih seperti Andrea dalam film Devil Wears Prada

Pertama, seorang asisten harus bisa membuat materi presentasi untuk keberlangsungan seminar ataupun kelas Prof. Rhenald Kasali. Mari kita bayangkan tantangannya. Seorang profesor pastilah memiliki konten materi yang sangat berkualitas. Konten tersebut akan lebih mengena dan lebih “tertancap” di otak para peserta/mahasiswa apabila didukung dengan presentasi yang memukau. Untuk itulah, dalam pengerjaan materi, tim asisten memiliki standarnya: yakni menggunakan software dan aplikasi yang paling baru. Minimal yang resmi diperbarui setahun terakhir. Tentu saja, hal tersebut berpengaruh terhadap animasi maupun transisi yang akan lebih memaksimalkan keahlian Prof. Rhenald Kasali dalam story telling.

Kedua, seorang asisten harus bisa melakukan video editing. Sering sekali dalam konten yang ingin disampaikan, Prof. Rhenald Kasali memperkuatnya dengan menampilkan video. Namun sayangnya, durasi acara menjadi kendala untuk dapat memutar video secara penuh. Maka dari itu, tidak jarang beliau meminta asistennya untuk menyesuaikan durasi video. Tidak hanya itu, melakukan video editing juga termasuk memberikan subtitle atau bahkan dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Lagi-lagi hal ini juga tergantung dengan software yang dipakai.

Kemudian yang ketiga adalah bagaimana seorang asisten bisa bermain dengan kelincahan (agility) ketika mempersiapkan konten materi sembari berkoordinasi dengan pantia acara. Berada di bawah bimbingan Prof. Rhenald Kasali salah satu tuntutannya adalah untuk dapat melakukan banyak hal dalam sekali waktu. Termasuk dalam menyusun draft konten yang bisa disajikan kepada audiens.

Memang benar seperti kata pepatah, “Alah bisa karena biasa”. Namun, sesuatu yang dibentuk menjadi habbit juga tidak akan bisa menjadi maksimal apabila tidak didukung dengan perangkat yang tepat pula.

There’s No Room for Any Failure

Eh, kok bisa perangkat berpengaruh terhadap habbitual seorang asisten? Well, mari aku ceritakan pengalamanku selama menjadi road manager untuk seminar Prof. Rhenald Kasali.

Beliau memiliki kesibukan yang super padat. Untuk bertemu dengan beliau di kantor saja, aku harus sering-sering cek, kapan beliau ada di ruangannya dan bisa ditemui. Momen tersebut bisa dikata langka. Ketika aku mendapat amanah untuk menyusun konten berikut dengan sajiannya, aku harus bisa mengerjakannya secara cepat. Dan yang tidak boleh lupa adalah saving the file! Sayangnya, proses menyimpan dokumen tersebut membutuhkan waktu. Apabila dilakukan pada perangkat yang salah, bisa harus menunggu hingga 5 menit. Itu berarti, membuang waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk mendiskusikan konten materi itu dengan Prof. Rhenald Kasali. Sayang banget, kan?

Belum lagi ketika jadwal benar-benar ketat, tuntutan akan perkembangan dan revisi konten tidak mengenal waktu dan membuat laptop akhirnya tidak pernah dimatikan. Alias kerja non-stop. Sebagaimana yang kita tahu selama ini, jika perangkatnya harus terus-terusan bekerja, performanya-pun semakin lama akan menurun. Memperbesar risiko adanya lag. Wah, lag ketika dikejar deadline pengerjaan materi? Benar-benar mimpi buruk! (Dan itu benar pernah kejadian…) Jangan sampai lag saat Prof. Rhenald Kasali harus presentasi di depan peserta….

Kalau saat mempersiapkan konten materi saja tidak boleh ada yang salah, apalagi ketika Prof. Rhenald Kasali menyajikannya di depan peserta?

the image says it all

Prof. Rhenald Kasali pun juga tidak jarang meminta untuk menampilkan video atau materi tertentu ketika beliau sudah di atas panggung. Tentu saja, sembari menunggu asistennya melakukan hal tersebut, beliau mengajak pesertanya untuk berinteraksi (seperti tanya jawab misalnya). Dengan kata lain, asisten yang tengah berusaha memenuhi perintah tersebut dikejar waktu yang sedikit. Sungguh sebuah mimpi buruk jika untuk membuka file dan video tertentu saja ternyata kelewat lama. Sebab, lama tidaknya melakukan hal tersebut berpengaruh dengan ambiance peserta. Bisa-bisa antusiasme hilang dan berubah menjadi kebosanan.

Sudah terbayang kan? Habit yang sudah terbentuk jika tidak didukung dengan perangkat yang sesuai malah membuat penampilan bisa tidak maksimal.

Looking for the “Right” Partner

Tidak hanya dengan sesama manusia, seorang asisten pun juga harus menemukan “tulang rusuknya yang hiang” pada perangkat yang sering ia gunakan. Ketepatan pilihan perangkat — dalam hal ini adalah laptop — berpengaruh sangat besar terhadap produktivitas dan efisiensi waktu seorang asisten. Jangan ditanya lagi kaitannya dengan penampilan Prof. Rhenald Kasali.

Sampai sejauh ini, ternyata aku juga belum menemukan “pasangan” yang pas. Telisik punya telisik, ternyata ASUS punya seri laptop idaman asisten. ASUS sebagai brand perangkat elektronik terkemuka dan terpercaya merilis sebuah laptop dengan spesifikasi yang selama ini aku butuhkan.

collage
-Beginilah sekilas rupa si “Tulang Rusuk yang Hilang”

Dimulai dengan prosesornya: Intel Core i7-6820HK yang resmi dirilis September tahun lalu. Dengan “otak” yang seperti itu, laptop pun memilliki kinerja yang jauh lebih cepat. Analoginya begini: seorang asisten yang sudah punya to do list hari itu, ditambah dengan niat yang kuat untuk menyelesaikan semuanya dalam sehari, dan ditambah dopping. Hasilnya? Bisa produktif, maksimal, dan selesai lebih cepat. Seperti yang aku bilang di atas: menyimpan file presentasi yang penuh animasi dan transisi keren dengan besaran 100MB sebelumnya memakan waktu lebih dari 5 menit, dengan latop ASUS ROG G752VS yang prosernya keren, bisa menjadi cuma 1 menit. Asisten mana yang tidak bahagia dengan teknologi seperti itu? :”)

Kemudian, laptop ini pun juga “dimodali” RAM sebesar 64GB. Kalau dalam kasus asisten, ASUS ROG G752VS ini bahkan bisa membuka 50 file PowerPoint secara bersamaan! Membuat alternatif konten pun bisa jauh lebih cepat karena bisa dilakukan berbarengan dan paralel. For your information, menjadi asisten juga dituntut untuk bisa multitask lho. Dan RAM 64GB ini sangat mendukung untuk membentuk kebiasaan itu!

Dari proser dan RAM-nya sudah bisa membuat hidup asisten menjadi lebih mudah. Dan yang penting nih, laptop ASUS ROG G752VS bisa “dipaksa” bekerja non-stop tanpa khawatir bakal lag ketika sedang digunakan untuk presentasi. Apalagi ditambah dengan 3D Vapor Chamber, laptop yang diajak kerja rodi pun jadi tidak cepat panas. Balik lagi, risiko terjadi lag pun menjadi jauh lebih kecil.

Oh iya, ada yang terlewat! Asisten juga handle masalah pengetikan dan editing artikel dan buku Prof. Rhenald Kasali. Aku pribadi memiliki kecepatan mengetik yang cukup cepat. Plus, bisa mengetik tanpa harus melihat papan keyboard. Tapi, kalau misalkan ditambah dengan fasilitas keyboard seperti yang dimiliki ASUS ROG G752VS yang anti-ghosting, asisten pun jadi tidak kena tegur karena pengerjaannya yang lambat dan tentu, editor juga jauh lebih bahagia!

Tapi, bukannya ASUS ROG G752VS itu ditujukan untuk gamers ya?

Eh jangan salah. Asisten pun juga bisa menggunakan ASUS seri tersebut untuk bekerja. Dengan spesifikasi yang bisa memenuhi kebutuhan dan tuntutan pekerjaan asisten, bukannya tidak mungkin jika nanti laptop itulah “tulang rusuk yang hilang”.

Mengerjakan konten materi presentasi, video editing, hingga masalah penulisan artikel dan buku untuk Prof. Rhenald Kasali? Beri ASUS ROG G752VS dan pekerjaan ala Roro Jonggrang pun bisa diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat ketimbang membangun Candi Prambanan!

— November 7, 2016

What Do You Think?