Many people say I am such a lucky person. Bisa sekolah dan menekuni ilmu yang disenangi. Bisa lulus tepat waktu. Sudah punya pekerjaan bahkan sejak SMA (walaupun hanya berupa guru piano saja). Dan kini, bisa belajar langsung dari seorang hebat yang ada di Indonesia, Prof. Rhenald Kasali. Orang-orang terdekat, mereka yang biasa berinteraksi denganku bilang hal tersebut merupakan pencapaian yang keren. Yang mengagumkan. Mereka juga bilang kalau mereka bangga denganku karena bisa sejauh ini. Padahal sebenarnya, aku hanyalah aku yang biasa saja.

Sama seperti banyak orang (yang bagi kita) keren lainnya yang selama ini kita lihat dari jauh, yang kita lihat dari media misalnya. Kadang terbersit untuk bisa seperti mereka, bisa keren, bahkan bisa tenar dan populer karena kekeranannya itu. Namun apakah benar, apa yang kita lihat selama ini adalah semua hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan orang-orang keren itu tadi?

Setiap Individu Punya Camera Branding-nya Sendiri

Pernah tahu istilah camera branding? Setiap individu memiliki caranya untuk tampil “sempurna” dengan memaksamilkan kemampuan camera branding-nya itu tadi. Contoh simpelnya seperti Cinta Laura (hal ini pernah dibahas oleh Prof. Rhenald Kasali dalam salah satu artikel & bukunya). Di televisi, Cinta Laura memiliki logat Indonesia yang kebarat-baratan, tidak jarang ia mencampur bahasanya antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Namun, di balik itu semua, ternyata sebenarnya Cinta Laura bisa juga tuh bertutur bahasa Indonesia tanpa adanya logat kebarat-baratan itu tadi. Itu dia yang namanya camera branding. Kemampuan camera branding itulah yang bisa dijadikan nilai jual, seperti Cinta Laura yang berhasil “laku” dengan logat Indonesia-barat-nya.

Orang-orang keren itu pun juga pasti memiliki camera branding ketika ia memutuskan untuk mempublikasikan kisahnya kepada publik. Atau misalnya, hanya mengunggah status atau foto di situs media sosial, sehingga membuat yang melihatnya menjadi kagum atau bahkan bisa iri (haters juga sering membuat suatu tokoh menjadi sangat terkenal malah). Seperti yang sudah banyak beredar di akun media sosial berbagi foto, Instagram, para penggunanya (seakan) berlomba menampilkan gambar kalau kehidupan mereka bahagia, bahwa kehidupan mereka menyenangkan, bahwa kehidupan mereka penuh dengan kesenangan. Tidak jarang, Instagram sering kali dijadikan tempat untuk membandingkan hidup satu sama lain (dimana hal ini banyak terjadi di kalangan remaja tanggung yang gemar memamerkan liburan atau barang yang dimilikinya). Apa itu salah? Tidak Yang dibutuhkan ya kendali diri dari masing-masing individu, baik itu yang mengunggah maupun mereka yang melihhat foto tersebut.

Tetapi, apakah para penonton itu tadi mengerti bagaimana cerita di balik keindahan foto? Belum tentu. Sama seperti orang-orang keren yang kita lihat di media. Apakah Pak Dahlan Iskan hanya mengalami hidup enak karena karirnya terus melaju? Apakah Mark Zuckerberg hidupnya hanya ongkang-ongkang kaki saja karena sudah kaya dengan Facebook? Tentu tidak. Mereka punya bagian cerita yang tidak semua orang mau untuk melakukannya. Pak Dahlan Iskan misalnya, beliau sering bertutur kalau masa kecilnya tidak seperti anak lainnya, dimana beliau untuk sekolah saja tidak punya sepatu. Tetapi itulah yang membuat beliau memiliki energi yang besar untuk memiliki hidup yang lebih baik. Dari semua orang keren dan orang sukses, pasti ada cerita berdarah-darahnya. Pasti mereka punya cerita terseok-seoknya. Pasti ada fase kehidupan dimana rmenjadi fase yang paling sulit (pada saat itu) sebelum akhirnya mereka benar merasakan kalau setelah badai, mereka menjadi orang yang jauh lebih tangguh.

Di Balik yang Keren, Ada yang Berdarah

Pun, aku yang kata orang terdekat, adalah seorang panutan, sebenarnya tidak lebih dari sosok yang sempat ragu untuk memgambil langkah. Sosok yang takut untuk melompat lebih tinggi. Sosok yang takut untuk mengambil kesempatan berharga sekali seumur hidup. Karena memang, aku tidak lebih dari seorang biasa yang sama dengan yang lainnya. Namun, setelah berani mengambil satu per satu risiko yang awalnya terlihat tidak mungkin aku selesaikan, aku mulai memperhitungkan kembali kemampuan diriku. Mulai menata strategi untuk berani menggantungkan cita-cita pada langit yang lebih tinggi.

Ketika berada menjadi 40 besar RKMentee 2016, aku berangkat dan hadir dalam keadaan yang penuh keraguan. Ragu untuk sanggup menyelesaikan tantangan dari mereka. Ragu untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman hebat dari seluruh Indonesia yang memiliki proyek sosial yang menakjubkan. Nyatanya, aku tetap bisa melalui pelatihan 6 hari tersebut dengan hati yang senang. Nyatanya, kesan yang aku dapatkan juga sangat melebihi ekspektasi. Nyatanya, aku bisa menyelesaikan tantangan mereka.

Aku bersyukur, aku dibersarkan dalam keluarga yang tidak mengajarkanku untuk sekedar mendapatkan kenikmatan tanpa usaha. Kalau memang sangat ingin, ya berusahalah. Entah dengan merombeng kertas koran atau cari pekerjaan sampingan. Intinya, ketika orang tua mengatakan kalau mereka tidak bisa memenuhi keinginanku, ya usahakan sendiri. Secara tidak langsung ternyata hal tersebut malah melatihku untuk memilah dan memilih mana yang betul-betul aku butuhkan dan mana yang hanya nafsu semata.

Orang tuaku juga mengajarkan untuk tidak menjadi orang yang brand-centered (hanya mau menggunakan merek tertentu untuk pakaian dll). Selama barang tersebut terjangkau dan pantas untuk dikenakan/dipakai, ya kenapa tidak? Selama barang tersebut ternyata bisa memenuhi kebutuhan, ya kenapa tidak? Daripada membeli sesuatu hanya karena untuk membeli gengsi supaya terlihat dari kelas sosial tertentu sehingga dana yang benar-benar kami miliki ya memang untuk hal-hal yang kami butuhkan….tunggu, kecuali soal buku! :))

Dari dulu, ketika kami tidak ada kendaraan pribadi untuk ke suatu tempat, kami memanfaatkan transportasi umum atau jika jaraknya sangat memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, ya kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Tidak heran, ketika jalan kaki aku masih bisa menikmati jalanan. Hamdalah sekali sewaktu tahu kalau kekuatan kakiku ternyata sangat bisa digunakan untuk urband outbond kemarin.

Orang lain tidak tahu berapa banyak aplikasi pertukaran pelajar, beasiswa, dan beragam program bergengsi yang suda menolakku. Dari situ aku belajar banyak, salah satunya untuk belajar menerima kekalahan dan dari situ aku juga belajar untuk mengoreksi diri, mengenali diri lebih jauh akan kekuatan dan kelemahan yang sekiranya bisa dikembangkan.

Di balik kekerenan seseorang, ada proses yang mau terluka, mau terjatuh dan tidak kapok untuk berdiri dan mencoba pintu yang lain. Tidak jarang, caranya malah dari mendobrak pintu yang sudah (hampir) tertutup itu. Di balik kekerenan seseorang ada hati yang sangat besar untuk tetap berusaha dan mau belajar, tidak menutup telinga ketika mendapatkan kritk dan tidak sembarang reaktif. Di balik kekerenan seseorang, ada perjuangan yang belum tentu mau dilakukan oleh sembarang orang.

Termasuk aku. Termasuk aku yang masih meyakinkan diri kalau langkah yang aku ambil ini akan sangat berguna untuk Indonesia yang lebih baik. Mana mungkin, Indonesia mau memiliki seorang pustawakan anak dan remaja yang mentalnya lembek bak buah stroberi, kan? Bagaimana jadinya generasi Indonesia emas jika pion pendidiknya ternyata tidak bisa jadi panutan?

Makin percaya kan, kalau apa yang ada di media sosial hanyalah jenis camera branding yang memang ingin ditampilkan? Percayalah, di balik kerennya seseorang, ada usaha yang tidak pernah kenal letih dan kenal lelah. Pun, tetap, aku hanya aku yang biasa saja.

— January 25, 2016

2 thoughts on “Karena (untuk) Menjadi Keren Bukan Usaha Sekejap Mata

  1. Pingback: Terbuka itu Tidak Sama dengan Telanjang | your world, my nest, vague trust
  2. Zia

    Hey girl! I’m glad I know you as team mate on RKmentee. I learn much bout discipline and strong principle from you. Thank you so much. Ngomongin tentang berdarah-darah, aku paham sekali Hestia. Aku juga mengalaminya. Aku percaya pencapaianmu saat ini adalah buah dari kegigihan selama lebih kurang dua puluh tahun kehidupan. Selamat belajar di planet Bekasi ya. Keep contact, sobat! 🙂

What Do You Think?