Universe conspires. Itulah yang seringkali didengungkan oleh banyak orang ketika keajaiban terjadi sebagaimana mereka telah mendambakannya, atau paling tidak, sempat membayangkannya. Universe conspires and it still amazed me. Begitulah aku merasakan bagaimana waktu dan momen berjalan belakangan ini.

Pada tulisanku yang sebelumnya, aku pernah menyinggung bahwa selepas dari label sebagai mahasiswa, disitulah terjadi perseteruan batin antara perasaan siap dan tidak siap untuk akhirnya “nyemplung” ke dalam lautan kehidupan yang sebenarnya. Dimana lautan tersebut tidak dapat diketahui kedalamannya, kecepatan arusnya, sehingga kita pun harus dengan cepat memutuskan segala sesuatu sebelum terseret lebih jauh. Aku seringkali menyinggung kalau bekerja secara profesional (tidak hanya bekerja pada saat hari dan jam kerja saja, melainkan benar-benar memaknai apa yang tengah dikerjakannya) menunjukkan pada anak-anak yang baru lulus ini (termasuk aku tentunya) bahwa kehidupan itu menyakitkan dan serba tidak adil. Life sucks and painful. Hal tersebut terlontar dari pikiranku ketika aku melihat beberapa anak yang dengan mudahnya mendapatkan segala macam akses padahal usia mereka sudah kepala 2, usia yang bagi pemahamanku adalah usia untuk dapat menghidupi dirinya sendiri, usia untuk berusaha dan berjuang secara sungguh-sungguh. Bukan mengandalkan nama dan jabatan orangtua semata.

Aku dibiasakan oleh orangtua untuk berusaha sendiri. Tidak boleh mencatut nama mereka, apalagi menggunakan kekuasaan dan jabatan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Aku jadi teringat suatu kisah bagaimana Bung Hatta menabung untuk dapat bisa membeli sepatu yang diidamkannya, padahal kalau beliau menyebutkan jabatannya, beliau bisa mendapatkan sepatu tersebut dengan mudah. Malah tidak perlu membayar sama sekali. Seperti itulah yang aku coba untuk terapkan hingga saat ini. Mengikut prosedur yang ada, kalaupun pintunya tertutup, berarti waktunya untuk mendobrak.

Menggenggam Mimpi adalah Awal dari Konspirasi

Mengalami sendiri bagaimana kegagalan menerpa, akhirnya aku jadi belajar banyak hal. Salah satunya adalah untuk tidak pernah takut dan tidak pernah kendur dalam menggemgam mimpi. Mimpiku sederhana sekali: untuk merasakan bagaimana rasanya tinggal di negara orang. Aku dikelilingi oleh teman-teman yang sempat menghabiskan masa kecilnya di luar negeri lantaran orangtua yang melanjutkan pendidikan di sana. Otomatis, mereka jadi mahir bahasa negara itu dan memiliki pengalaman masa kecil yang menyenangkan (sebetulnya menghabiskan masa kecil di Indonesia juga tidak kalah seru, lo!). Aku yang sering mendengarkan celotehan mereka merasa iri. Itu pulalah yang mendorongku untuk mencoba mendaftar banyak program pertukaran pelajar maupun beasiswa. Tetapi hasilnya, aku belum diberi kesempatan untuk terbang.

Apakah kegagalan dan penolakan berulang kali itu membuatku menyerah? Iya. Sempat. Dan lebih buruk lagi, aku pernah berprasangka buruk dengan mereka yang berhasil mencicipi rasanya tinggal di negara orang. Namun, aku menyadari kalau membuat banyak excuse tidak pernah akan membantuku untuk mewujdukan mimpiku itu, selain aku berusaha lebih dan lebih. Going the extra miles. Meskipun sempat sedih, aku tidak pernah melepaskan mimpiku itu. Aku percaya pada kekuatan mimpi dan istilah yang mengungkapkan kalau dunia akan merekam dan membantu mewujudkannya.

Tentu saja, sembari memegang dan percaya pada mimpi, seseorang harus terus berusaha dan tidak pernah lelah untuk belajar. Keluar dari zona nyaman untuk berada di zona belajar. Tidak pernah merasa puas dan terus mengasah diri. Memang, lagi-lagi ketika kita harus bekerja lebih ataupun belajar lebih dari orang kebanyakan, batin akan merasa adanya ketidakadilan dengan mereka yang mendapatkan akses dengan sangat mudah. Tapi, yang namanya hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Yang namanya Maha Kuasa, memang bisa mempermainkan semesta.

Semakin kita berusaha untuk menjadi lebih baik (bukan berusaha untuk sekedar “berusaha”. Coba baca buku Self Driving dari Prof. Rhenald Kasali mengenai berusaha untuk menjadi pemenang, bukan sekedar untuk menunjukkan eksistensi diri), sebenarnya semakin didekatkanlah kita dengan keajaiban yang bisa membantu mewujudkan mimpi itu. Memang, dalam berusaha secara maksimal tidak akan ada imbalan yang terlihat, tidak ada pujian yang datang, karena yang tahu hanya kita sendiri dan Tuhan. Namun, kita lupa, kalau alam juga merekam. Semesta tahu mana yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan mana yang tidak. Seperti salah satu firman Allah kalau setiap tindakan selalau ada balasannya barang sekecil apapun.

Universe Conspires and Amazed Me

Aku pernah berkesempatan menjadi host sister untuk seorang siswi pertukaran pelajar dari Amerika Serikat. Sebelumnya ketika aku duduk di kelas 10, aku juga pernah mencoba program pertukaran pelajar tersebut. Namun ternyata kurang beruntung dan berujung menjadi volunteer untuk mereka. Dari situlah, aku rasa semesta mulai “bermain”. Pada tahun 2015 lalu, selama 6 bulan, aku juga mendapat kesempatan untuk menjadi mentee para alumni universitas Amerika Serikat dalam program Education USA – US Consulate General Surabaya Mentorship dimana mereka benar-benar mempertemukanku dengan komunitas internasional, mendapatkan banyak insight mengenai menjalankan pendidikan di sana. Selama 6 bulan, rasanya orang-orang KonJen hampir hapal dengan 10 orang mentees. Impianku untuk ke luar negeri dan tinggal di sana, mungkin akan aku wujudkan dalam bentuk melanjutkan sekolah master di Amerika Serikat, negara dengan perkembangan keilmuan perpustakaan yang maju.

Permainannya tidak berhenti disitu saja. Januari 2016, aku mendapatkan kesempatan untuk magang dan belajar langsung di bawah arah Prof. Rhenald Kasali. Dengan program dan materi belajarnya yang menyenangkan (I warn you: you really have to move from your comfort zone), kecintaanku terhadap ilmu perpustakaan ternyata bisa mendatangkan kesempatan langka untukku. Aku diperkenalkan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, ibu Sofia Blake sebagai murid dari Prof. Rhenald Kasali yang tengah belajar bagaimana cara mendidik anak-anak yang memiliki nilai dasar dan moral yang luhur. Aku bertemu dengan banyak orang yang ternyata juga memiliki fokus yang sama: pendidikan terhadap anak-anak. Siapa tahu, dari situ kami bisa berdiskusi dan beraksi lebih banyak lagi, yang bisa mendatangkan alasan yang lebih kuat mengapa aku perlu mendapatkan pendidikan lanjut dalam bidang Ilmu Perpustakaan.

Walaupun aku terlambat menyadarinya, aku akhirnya tahu kalau itu semua adalah ulah semesta. Ulah Yang Maha Kuasa untuk membantu mewujudkan mimpi yang aku genggam erat sejak lama. Aku baru sadar kalau Prof. Rhenald adalah alumni universitas di Amerika Serikat. Aku baru sadar kalau selama 2015 aku asyik “bermain” dengan Konsulat Jendral Amerika Serikat di Surabaya. Nyatanya, setiap usaha yang dilakukan secara maksimal untuk mewujudkan mimpi, bisa mengantarkan kita untuk lebih dekat dengan mimpi yang ingin kita wujudkan tersebut.

Life sucks and painful yet the universe conspires and amazed me, always.

— February 8, 2016

One thought on “Konspirasi Alam Semesta

  1. Pingback: Disiplin Bukan Hanya Sekedar Selalu Datang Tepat Waktu | your world, my nest, vague trust

What Do You Think?