Pada salah satu kegiatan mentoring antara para Mentees dengan Prof. Rhenald, beliau sempat berkata kalau setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjual apa yang disebut dengan modal intangible. Bagi orang-orang yang pernah kuliah di bidang ekonomi, mungkin sangat familiar dengan modal tangible dan modal intangible. Secara gamblangnya dikatakan kalau modal tangible adalah modal yang dapat dilihat dengan mata seperti: rumah, kendaraan bermotor, televisi, komputer. Sedangkan modal intangible adalah modal yang tidak berwujud. Paling mudah misalnya adalah kemampuan, skill, cara berpikir.

Tidak banyak orang di Indonesia merasa kalau modal yang intangible ini sama berharga, bahkan bisa menjadi lebih berharga ketimbang yang tangible. Alhasil, negara ini seakan-akan mengagungkan tangible itu tadi. Apa yang paling tampak? Ijazah. Orang Indonesia masih saja merasa kalau ijazah pendidikan terakhir seseorang akan menaikkan nilai “jual”-nya. Padahal, asal tahu saja, banyak juga kejadian dimana apa yang tertulis dalam ijazah tidak berbanding lurus dengan knowledge yang dimiliki oleh nama yang tertera dalam ijazah tersebut.

Jual Diri. Bukan Jual Ijazah

Baik ayahku dan Prof. Rhenald merupakan sosok pendidik. Kesamaan yang dimiliki oleh kedua orang tersebut (yang masih aku pegang hingga sekarang) ialah ijazah bukan segala-galanya di Indonesia, melainkan kemampuan. Kalau Prof. Rhenald menambahkannya dengan  kondisi mental. Ijazah tanpa kemampuan dan mental yang tangguh hanya mengasilkan sarjana (atau master atau doktoral) keras. Bisa jadi mereka sosok-sosok yang fixed mindset, merasa bahwa sudah cukup tahu dengan apa yang ada di dunia ini hanya karena ijazah terakhirnya.

Memang, sulit untuk bisa menjadi seseorang yang menjual kemampuan tanpa adanya ijazah sebab hingga tulisan ini ada, ijazah masih dianggap sebagai bukti atas kemampuan seseorang. Tetapi sadarkah kalian ketika banyak orang yang “menjual” ijazah sebenarnya ia malah tidak memiliki diferensiasi suatu apapun dengan yang lain?

Henry Manampiring, salah satu penulis yang digandrungi oleh remaja perempuan Indonesia seringkali mengungkapkan kalau lebih baik cari pengalaman terlebih dahulu selulusnya dari Sarjana/Diploma sebelum melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal serupa juga dilontarkan oleh penulis 30 Paspor di Kelas Sang Profesor, J.S. Khairen untuk minimal memiliki pengalaman “jatuh bangun” 5 tahun sebelum memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Mengapa? Supaya menjadi seseorang yang tidak bergantung terhadap yang tangible.

Apalah aku ini yang pengalamannya masih minim, tetapi aku ingin berbagi cerita kalau aku sendiri belum sampai menggunakan ijazah dan transkrip nilaiku untuk mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi guru piano, itu pun aku masih belum lulus ujian piano tingakat yang Madya (dan sampai sekarang belum lulus juga hehe). Tetapi, pihak yayasan tempat aku mengajar percaya padaku kalau aku bisa. Alhasil aku sudah mengajar selama 4 tahun sebelum aku akhirnya pundah ke Bekasi.

Begitu pula ketika aku bekerja di Studentpreneur (PT. Wirausaha Muda Sukses Sejahtera). Aku sendiri belum lulus, masih berjuang untuk skripsiku. Tetapi mereka tidak membutuhkan ijazah dan transkrip nilai untuk meyakinkan mereka kalau aku ini orang yang tepat untuk bergabung dengan tim. Hingga yang terakhir, aku berada di Rumah Perubahan melalui program RKMentee. Sejak tahap pertama, panitia seleksi sama sekali tidak meminta salinan ijazah dan transkrip nilai. Mereka hanya minta esai dan daftar riwayat hidup. Lucunya adalah, aku sering sekali lupa mencantumkan gelar sarjanaku di belakang nama. Saking banyaknya seleksi yang aku ikuti ketika aku masih mahasiswa, aku bahkan lupa kalau aku sudah lulus.

Poinnya apa?  Kita masih bisa “menjual” diri kita tanpa menggantungkan diri pada ijazah dan transkrip (atau bahkan gelar), asalkan kemampuan yang sifatnya intangible itu tadi benar-benar dimaksimalkan.

Optimalisasi yang Intangible

Kalau sudah tahu kemampuan apa yang ingin dikembangkan, lalu apa yang harus dilakukan? Bukan. Bukan berarti kita hanya pasrah dengan kemampuan itu tadi. Tetap harus mau belajar. Orang dengan growth mindset tidak memandang kalau kemampuan yang sudah dimilikinya itu bersifat statis. Ia malah sadar kalau kemampuan sifatnya dinamis, begitu pula dengan ilmu pengetahuan dan laju informasi.

Ingtangible bisa menjadi tidak berguna (useless) apabila kita tidak pernah memperbarui hal tersebut. Cuek. Tidak mau tahu kalau ada sesuatu yang baru. Kalau pernah mendapatkan mata kuliah Metode Penelitian, pasti familiar dengan kata “menjadi peka dengan sekitar”. Ya. Mengembangkan modal yang intangible memerlukan kepekaan supaya yang intangible itu tadi tetap bisa dijual secara mahal.

Sama saja bohong apabila seseorang sudah tidak mengandalkan ijazahnya tetapi untuk update informasi atau keilmuan saja ia tidak mau. Bisa tergerus dan malah kalah dengan persaingan yang tengah terjadi. Optimalisasi yang intangible bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Selain untuk menjadi peka, seseorang sudah selayaknya untuk banyak membaca (termasuk membaca situasi/peka itu tadi). Arus informasi yang cepat bisa menjadi motivasi mengapa intangible perlu diperbarui secara berkala. Kalau dalam kasusku: aku rutin membaca berita tentang dunia ilmu perpustakaan melalui banyak kanal: Tumblr, Pinterest, Twitter. Mengapa? Karena kalau aku hanya pasrah dengan apa yang sudah aku dapatkan semasa kuliah, isi otakku ini tidak akan dihargai.

Ijazah itu (di Indonesia) penting, tetapi bagaimana kalau bisa “menjual” yang intangible dengan patokan lebih mahal? Silahkan direnungkan, terutama mereka yang masih terkena euforia wisuda :—-)

— March 27, 2016

One thought on “Menjual yang Intangible

What Do You Think?