Menjadi seorang RKMentee alias murid didik langsung dari Pak Rhenald Kasali juga memiliki kewajiban untuk selalu mengikuti sesi beliau ketika beliau mengisi pelatihan. Memang, menjadi RKMentee dan berkegiatan di Rumah Perubahan tidak sama dengan bekerja. Menjadi RKMentee merupakan suatu kesempatan untuk sekolah lagi. Mempersiapkan mental sebelum terjun langsung di masyarakat yang serba tidak pasti dan serba dinamis.

Dari beragam topik yang dibawakan oleh Pak Rhenald Kasali, salah satunya adalah mengenai kekuatan mindset atau pola pikir. Bapak — begitu kami memanggil beliau — selalu menekankan: “sulit tapi bisa” dengan “bisa tapi sulit” memiliki makna yang berbeda. Bagaimana cara kita berpikir, apakah itu “sulit tapi bisa” atau “bisa tapi sulit” akan menentukan bagaimana kita melihat suatu hal. Apakah orang tersebut memiliki mental driver ataukah mental passanger.

Sulit Tapi Bisa vs. Bisa Tapi Sulit

“Sulit tapi bisa”. Makna kata tersebut mengartikan bahwa otak kita berpikir bahwa kita akan mampu melakukannya meskipun sulit. Dimana juga berarti, kita sudah bersedia untuk bekerja lebih keras. Orang yang berpikir dengan cara begitu melihat tujuannya. Dia bisa melihat apa yang akan didapatkannya kelak ketimbang terlalu memikirkan kesulitan yang akan ia hadapi. Dengan kata lain, dia sudah siap secara mental untuk bertemu dan menguraikan hambatan-hambatan yang akan menghalanginya. Pola pikir seperti itulah yang bisa dijadikan indikasi seseorang memiliki mental driver.

Bagaimana dengan pernyataan “bisa tapi sulit”? Sudah tampak kalau yang terpikirkan pertama kali adalah kesulitannya. Orang dengan pola pikir seperti itu akan melihat terlebih dahulu apa kesulitannya ketimbang apa yang akan didapatkannya kelak. Di dalam otaknya sudah terpatri bahwa ia akan banyak menemukan kesulitan ketimbang kepercayaan dan keyakinan diri untuk mewujudkan apa yang sudah menjadi tujuannya. Secara tidak disadari, dirinya sendiri membatasi geraknya. Sangat mungkin, sebelum ia mencoba, ia malah akan mundur karena sudah ada dalam bayang-bayangnya kalau ia akan menemui kesulitan plus ia sendiri merasa memikirkan suatu hal untuk memecahkan akan membuat dirinya semakin sulit. Orang dengan pola pikir “bisa tapi sulit” adalah mereka yang memiliki mental sebagai passenger. Tidak mau berpikir lebih, ia hanya mau apa yang sudah pasti dapat dilakukannya tanpa mau berusaha lebih. Berpikir lebih dari biasanya saja ia tidak mau.

Awal dari Semua Tindakan

Dalam sesi yang disampaikan oleh Pak Rhenald Kasali juga diselipkan perbedaan mengenai otak manusia dengan otak hewan. Tentu secara ukuran berbeda. Namun yang ingin ditekankan oleh Bapak bukanlah hal tersebut. Bayi hewan mamalia yang masih satu famili dengan sapi dan kerbau sekalinya dilahirkan, beberapa menit kemudian sudah bisa berdiri dan berjalan mengikuti induknya. Sedangkan bayi manusia tidak. Butuh waktu 1 hingga 2 tahun untuk bayi tersebut hingga bisa berjalan dan butuh waktu yang lebih lagi jika menginginkan si anak untuk bisa berlari.

Perbedaan tersebut diketahui lebih lanjut ternyata terletak pada sistem otak. Ketika manusia baru dilahirkan, sistemnya masih berupa simpul-simpul saraf yang masih belum terhubung satu sama lain. Untuk dapat menciptakan jaringan baru, dibutuhkan proses yang terus menerus sehingga si anak nantinya bisa melakukan hal seperti orang dewasa. Proses tersebut harus intens. Misalnya saja untuk membuat si anak berbicara, maka orangtuanya harus sering mengajaknya mengobrol. Barulah akan ada sistem baru yang terbentuk dalam otak si anak.

Apa maksudnya? Pola pikir yang dimiliki oleh orang dewasa saat ini sebenarnya juga merupakan investasi dari proses-proses pembentukan jaringan saraf yang sudah dilakukan sejak kecil. Hal ini tidak lepas dari orang terdekat si anak, yakni orangtuanya sendiri. Sehingga apa yang sering dilakukan maupun diucapkan oleh orangtua, nantinya akan membekas menjadi sebuah jaringan dalam otak anak dan akan dibawa hingga dewasa. Sayangnya, tidak banyak dari proses pembentukan jaringan yang bagus bagi keadaan mental seseorang. Tetapi bukan berarti ketika dewasa, seseorang tidak bisa mengubah pola pikirnya. Setiap momen dalam kehidupan manusia merupakan proses bagi manusia itu untuk merajut jaringan-jaringan baru dalam sarafnya. Bahkan sangat mungkin untuk mengubah pola pikir yang sudah ditanamkan sejak kecil.

Pembentukan pola pikir yang mengajarkan seseorang untuk berpikir “bisa tapi sulit” akan membuat orang tersebut menjadi penakut. Ia akan mudah termakan oleh rumor-rumor orang yang tidak setuju dengan tindakan maupun pendapatnya. Ia akan mudah untuk dipengaruhi dan menjadi seseorang yang tidak memiliki pendirian. Ia menjadi orang yang tidak mau berubah untuk kebaikan karena sekalinya berada di zona nyaman, ia tidak akan pernah mau berpindah. Apakah itu bagus? Tidak. Orang dengan pola pikir “bisa tapi sulit” akan menjadi seseorang yang hanya menjadi passanger. Memang, ia akan merasa nyaman dan aman, tetapi sangat disayangkan karena ia tidak menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal karena tidak perna diajak untuk berpikir di luar dari apa yang sering ia temui.

Pola pikir seperti itu sudah banyak sekali ditemukan di masyarakat kita. Yang paling sering terlihat adalah di kalangan anak muda. Seperti yang diulas oleh Inc.com mengenai Mengapa Generasi Milenial Tidak Bahagia di Tempat Kerja, anak muda atau generasi milenial tersebut memiliki pola pikir “bisa tapi sulit”. Ketika diberikan tantangan pekerjaan, ia suda memikirkan kesulitannya terlebih dahulu ketimbang apa yang akan ia tuju. Hal tersebut membuat seseorang terkungkung bahkan sebelum ia terjun untuk mencobanya. Alhasil, belum lama di tempat kerja, ia akan mengatakan kalau dirinya sudah tidak mampu lagi, sudah menyerah dan memutuskan untuk pindah kerja saja.

Yang perlu diketahui oleh anak muda (apalagi yang baru lulus dan menyandang gelar Sarjana), jangan pernah menganggap hidup ini mudah hanya karena sudah punya gelar dan ijazah dari perguruan tinggi ternama. Hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak selalu manis. Dan sayangnya, dalam kehidupan yang sebenarnya, kita tidak bisa mengundurkan diri dan berpindah untuk memiliki kehidupan orang lain. Setiap tahapan usia dan hidup, termasuk di dalamnya urusan karir, selalu akan menemui yang namanya kesulitan. Tinggal bagaimana setiap manusia mengelola pola pikirnya agar tetap positif, agar tetap menjadi driver dengan berpikir kalau mereka bisa melakukannya meskipun sulit. Mereka malah akan mencobanya dan menganggap kesulitan yang dihadapi sebagai suatu permainan.

Maka, jangan harap setelah menjadi Sarjana akan ada kemudahan. Tidak. Lulus dari perguruan tinggi merupakan awal dari penolakan dan ketidakadilan hidup. Namun disitulah momen dimana seseorang dipaksa untuk mengelola pola pikir: apakah ia mau berubah dari “bisa tapi sulit” menjadi “sulit tapi bisa.”

Ya. Karena pola pikirlah yang menjadi awal mula semua tindakan kita hingga hari ini.

— February 13, 2016

What Do You Think?