Tahun 2012 lalu adalah pertama kalinya L’Arc~en~Ciel, band rock asal Jepang tampil di Indonesia. Aku suka dengan musik mereka kurang lebih sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, aku juga rajin untuk menonton video konsernya. Band yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Laruku tersebut belum ada barang sekali untuk mengadakan konser di Indonesia. Padahal, tidak jarang juga para promotor kita menawarkan untuk menggelar acara tersebut. Hingga akhirnya, awal tahun 2012, muncul pengumuman resmi bahwa mereka akhirnya mau juga bertandang ke Indonesia.

Di tahun itu aku sudah berada di bangku kuliah. Sudah mencicipi ribetnya jadi panitia acara semenjak bergabung bersama tim Kompas MuDA Surabaya. Pada saat itu memang aku sedang nyaman-nyamannya membuat acara dan menjadi seksi ribet (kalau tidak, mana mau aku jadi koordinator acara untuk ospek jurusan). Di titik itu, aku sempat mengira-ngira dan juga bisa dikatakan berharap kalau suatu saat bisa menjadi LO (Liaison Officer) untuk Laruku. Tujuannya sih sesederhana supaya bisa bekerja dengan mereka. Siapa sih yang tidak mau dekat-dekat dengan idolanya?

Keep Your Dreams Alive

Masih ingat dengan ungkapan dan tulisanku tentang “Universe Conspires”? Once you hold tight on your dream, you will always find the way. Meskipun aku lulusan dari Ilmu Informasi dan Perpustakaan yang sampai saat ini masih menjadi jurusan underdog, aku juga sering memaparkan di kelas kalau perpustakaan bisa menjadi tempat bertemuanya banyak orang, seperti komunitas dan para penggiat kreatif untuk membuat sebuah acara yang menyenangkan. Alias, tidak jauh-jauh dengan konsep “seksi ribet bikin acara”. Aku sempat beberapa kali ikut serta menjadi panitia, mulai dari Kompas MuDA, Surabaya Youth, TEDxTuguPahlawan dan lain-lain. Menyenangkan sekali rasanya bisa menjadi orang-orang di belakang suatu acara yang keren.

Januari 2016, aku bersama dengan 5 orang yang dipilih secara ketat melalui program RKMentee, kini sudah berjalan kurang lebih 3 bulan menjadi asisten Prof. Rhenald Kasali. Tentu saja aku tidak menyangka bisa berada di posisi ini. Namun, jika direnungkan balik, ternyata ada hal-hal yang sudah sejak dini aku “cicil” supaya bisa menuju apa yang aku inginkan.

Hello from the Other Side

Ketika sudah berada pada “dunia” yang sebenarnya juga tidak baru-baru amat ini (sebelumnya aku pernah menjadi asisten dosen, dan seksi ribet yang lainnya), aku diberikan sudut pandang baru dari apa yang sebelumnya aku lihat dari arah sebaliknya. Kalau dulu sempat tahu sebagai pihak penyelenggara kalau setiap bintang tamu pasti punya rider sendrii, kini, aku menjadi orang yang menuntut supaya rider tersebut terpenuhi. Ketika aku menjadi panitia acara, rasanya agak sebal jika rider dari bintang tamu sulit untuk dipenuhi alias banyak maunya. Mulai dari makanan dan minumannya hingga seperti hal-hal yang harus ada di atas panggung. Dan panitia juga akan senang jika rider tidak berbelit-belit, pihak manajemen bintang tamu bisa diajak negosiasi dengan non-formal. Namun, kini, aku berada pada sisi yang berbeda.

Kalau ditanya oleh banyak orang, aku masih bingung juga sebenarnya aku kerja apa sih. Memang secara titel kerjanya ya sebagai asisten, tapi aku tidak tahu menahu dengan jadwal kegiatan beliau. Yang seperti itu sudah ada bagiannya sendiri. Barulah ketika beberapa kali turun tugas, aku sadar kalau sebenarnya pekerjaanku ini lebih dekat dengan sebutan Road Manager. Seperti musisi dan para penampil seni lainnya. Road Manager bisa diartikan sebagai seseorang yang memastikan keadaan ketika nanti si penampil ini ada di atas panggung benar-benar kondusif sehingga penampil bisa secara maksimal mengeluarkan potensinya.

Untuk mereka yang biasa atau sudah pernah bekerja (minimal menjadi panitia pentas seni) pasti tahu, sebelum para musisi ini hadir, ada orang yang bertugas untuk memeriksa semua kelengkapan yang ada di panggung sebagaimana seperti yang telah mereka sampaikan melalui rider yang diberikan kepada panitia. Kalau ada yang kurang, mereka bisa marah dan menyalahkan ketidaksiapan panitia acara. Ya kurang lebih itulah yang aku kerjakan.

Ribetnya menjadi Road Manager bisa berhari-hari, tetapi dari situ aku jadi belajar banyak hal, terutama untuk komunikasi dan bernegosiasi. Menyampaikan apa yang menjadi tuntutan dari pihak manajemen supaya bisa diterima dengan jelas sehingga tidak ada yang namanya kesalahpahaman diantara kedua belah pihak. Dan asiknya lagi, aku jadi paham kenapa harus ada Road Manager untuk memastikan semuanya sesuai dengan permintaan: supaya kualitas dari para penampil bisa memuaskan penonton. Otomatis, tugas Road Manager juga tidak semudah yang biasanya kita lihat sekelebat. Mungkin kalian bisa membaca buku Pandji yang Menemukan Indonesia sebab disitu Pandji juga menyinggung Ziandra, Road Manager yang bertanggung jawab akan semua keadaan panggung untuk tur dunia Mesakke Bangsaku tahun 2015 lalu.

Bagi orang lain, menjadi asisten seseorang sekaliber Prof. Rhenald Kasali adalah suatu kemewahan. Sama dengan bagaimana aku melihat orang yang menjadi Road Manager atau LO untuk band legendaris sekelas Laruku. Well, setelah “lulus” dari sini, mungkin aku bisa langsung apply untuk menjadi Road Manager Barasuara mungkin?

— April 11, 2016

One thought on “Practically, I am the Road Manager

  1. Pingback: It’s (More Than) Just A Road Manager Life – your world, my nest, vague trust

What Do You Think?