Di tahun 2017 lalu, Royal Society for Public Health (RSPH) merilis laporan mengenai hasil survei yang mereka lakukan. Salah satunya adalah mengenai efek media sosial terhadap kondisi kejiawaan anak-anak muda (14-24 tahun). Dari lebih 1000 responden yang berada di Inggris, Skotlandia, Irlandia Utara, dan Wales ditemukan bahwa Instagram merupakan media sosial yang memiliki dampak terburuk. Dikatakan, Instagram membuat mereka menilai rendah gambaran tubuh mereka sendiri.

Begitu pula dengan yang ada di sekitar kita sekarang. Tidak hanya anak muda, mereka yang berada di usia awal bekerja (awal 20-30 tahun) juga kerap mengalami insecurities. Salah satunya karena media sosial Instagram. Melalui kanal itu, kita bisa melihat unggahan Instagram Story ataupun feed yang tampaknya selalu menyenangkan: kerja di kantor yang “gaul”, berlibur ke luar kota (bahkan ke luar negeri) setiap saat, hingga membeli barang mahal. Dan masih banyak pencapaian lain yang membuat kita menjadi minder dan terintimidasi. Lama-lama membuat kita mengutuk diri sendiri. Menyalahkan keadaan, entah itu masa lalu ataupun masa sekarang.

Tapi itu bukan salah Instagram. Dia hanya media sosial.

Bukan juga salah teman-teman atau orang yang kita follow. Itu akun mereka.

Yang salah adalah cara pandang kita.

Kita Bukan Avatar yang Bisa Mengendalikan 4 Elemen

Negara api menyerang. Avatar datang. Menumpas mereka hingga berlarian tunggang langgang.

Ya wajar. Dia Avatar. Yang bisa mengendalikan 4 elemen. Sedangkan kita hanya manusia biasa. Tapi maunya, bisa mengatur semua hal. Termasuk, unggahan orang lain di media sosialnya. Semakin insecure, semakin ikut mengatur rasanya.

Sadarkah kita kalau insecure datang dari persepsi kita terhadap apa yang kita lihat di media sosial ?

Dalam Filsafat Stoikisme, salah satu latihan yang biasa dilakukan oleh para filsuf adalah mengendalikan diri. Tunggu. Kita yang bukan seorang filsuf ini tidak akan langsung mempraktikkan yang sulit. Namun cukup disadari bahwa semua hal hanya dipisahkan oleh: apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak bisa kita kendalikan (Dikotomi Kendali).

Sebelum berjalan jauh, perlu diketahui kalau tulisan ini lebih ingin mengajak pembaca untuk mencintai diri sendiri (self-love). Dan tools-nya berupa Filsafat Stoik.

Memahami adanya hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak, akan memudahkan kita untuk meminimalisir insecurities itu tadi.

Sebelum saya memutuskan untuk hiatus dari Instagram, saya kerap menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh following saya adalah pamer. Dan saya merasa hidup saya di sini-sini saja: belum S2, belum pernah ke Eropa, dan belum-belum yang lainnya. Saya jadi membandingkan dan tidak mencintai diri sendiri.

Rasa membanding-bandingkan itu muncul karena saya belum tahu bahwa apa yang diunggah oleh following saya bukan di bawah kendali saya. Yang dibawah kendali saya adalah jiwa saya. Lebih mudah jika kita artikan dalam bahasa Inggris: soulSoul yang dimaksud bisa dimaknai sebagai jiwa, pikiran, dan emosi.

Maka, ketika saya kembali aktif di Instagram, saya sudah mulai mereduksi secara bertahap. Mereduksi siapa yang saya follow hingga mereduksi prasangka negatif (terhadap diri saya sendiri) ketika melihat unggahan mereka. Mau mereka bercerita tentang perjalanannya keliling Eropa, mau Maudy Ayunda memutuskan untuk sekolah di Stanford, itu semua bukan kendali saya. Saya mengontrol, mengendalikan jiwa saya. Saya mengendalikan cara pandang saya.

Merdeka itu Dimulai dari Pikiran

Filsafat Stoik melalui konsep Dikotomi Kontrol juga membahas bahwa setiap manusia sejatinya sudah merdeka. Mereka merdeka dalam pikiran, jiwa, dan emosinya. Artinya, setiap manusia memiliki kekuasaan terhadap bagaimana cara pandangnya. Akan tetapi, bukan dalam makna dan arti negatif.

Misalnya begini, pekerjaan saya setiap hari mengharuskan saya untuk berada di kantor lebih larut ketimbang teman-teman saya. Waktu saya untuk membaca buku jadi berkurang. Meskipun keadaanya seperti itu ditambah dengan celotehan orang lain bahwa saya hanya dimanfaatkan, saya tidak merasa kalau pekerjaan saya merupakan sebuah beban. Itu karena saya mencoba untuk “memerdekakan” pikiran saya dari pandangan orang lain. Komentar mereka bukanlah sesuatu yang bisa saya kendalikan. Jadi, buat apa saya terperangkap dalam asumsi tersebut?

Merdeka sejak dalam pikiran akan membawa pengaruh baik untuk diri kita. Alias, meningkatkan self-love. Kita jadi lebih sayang dengan soul kita. Mau kita membaca novel young adult, mendengarkan lagu-lagu tembang kenangan, nyemil cokelat, kita tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain terhadap kita. Yang bisa kita lakukan adalah membuat diri kita nyaman dengan keadaan kita sekarang.

Apakah itu berarti kita harus cuek? Bukan. Cuek dengan menyadari Dikotomi Kendali adalah dua hal yang berbeda. Dalam Filsafat Stoik, cuek tidak dibenarkan. Sebab, berarti kita tidak merasa berada pada satu Universalitas yang sama dengan manusia lain. Sedangkan memahami Dikotomi Kontrol ialah menjadi sosok yang tidak mengganggu orang lain tanpa harus meninggalkan kenyamanan kita terhadap diri kita sendiri.

Our Mental Health Matters

Filsafat Stoik merupakan filsafat klasik yang menjadi laku hidup. Sebelum berbicara mengenai peran manusia dalam tatanan sosial, Filsafat Stoik lebih baik diterapkan ke dalam diri sendiri terlebih dahulu. Dengan memahami Dikotomi Kendali misalnya.

Self-love hadir karena kita menyediakan ruang untuk mencintai diri kita sendiri. Untuk menyadari bahwa jiwa, emosi, dan pikiran kita adalah hal yang penting. Dan kita memiliki wewenang atas itu. Hingga akhirnya kita bisa mencintai diri kita sepenuhnya: terhadap masa lalu kita dan yang kita miliki sekarang. Amor Fati. Mencintai takdir kita.

— March 27, 2019

What Do You Think?