Berbicara mengenai kejadian salin tempel alias copy paste tanpa izin sudah bukan perihal lama. Sejak yang namanya komputer belum ada pun, isu itu selalu menjadi perbincangan. Oleh karena itu, dibuatkan juga undang undang untuk melindungi hak cipta, mengapresiasi hasil jerih payah individu maupun kelompok yang sudah dengan susah payah menghasilkan sesuatu. Tapi bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan kali ini.

Ika Natassa menyuarakan pendapatnya mengenai salin tempel secara bebas akan bagian-bagian dari buku yang semestinya dinikmati ketika individu tersebut mendapatkannya secara resmi, dengan kata lain membeli. Dalam pernyataan yang diunggahnya melalui akun Facebook, Ika Natassa menyarankan untuk diadakannya kampanye di kalangan remaja-remaja kita mengenai pentingnya menghargai karya seseorang (dan kemudian tidak sembarangan menduplikasi tanpa izin si pembuat karya). Kira-kira siapa sih yang seharusnya memberikan pemahaman kepada anak dan remaja mengenai hal tersebut?

Tulisan ini berusaha menyinggung betapa praktik salin tempel seenaknya sebenarnya sudah dipraktikkan oleh anak-anak. Sederhanya: aksi sontek-menyontek. Bukan karya yang sebesar milik Ika Natassa atau penulis lain, tetapi jawaban hasil ujian (misalnya) adalah buah karya pemikiran individu. Sayangnya tidak diapresiasi oleh society. Pasti masih ingat dengan salah satu kejadian yang sempat ramai didiskusikan, tentang seorang anak dan ibunya yang menolak aksi sontek massal yang dilakukan ketika ujian berlangsung, mengatasnamakan penyelematan nama sekolah agar tidak menjadi buruk. Si anak dan ibu meskipun harus pindah rumah, nyatanya adalah orang yang sekiranya benar dalam hal ini. Si anak dan ibu berusaha mengapresiasi apa yang jadi hasil pemikiran individu dengan tidak salin tempel sesuka hati.

Kejadian sontek massal dan sontek sontek lainnya masih terjadi, lantas bagaimana kita mengharapkan adanya kampanye mengenai hak cipta? Memang sih, jawaban ujian adalah karya yang tidak dilindungi oleh hak cipta manapun, tetapi kalau dari hal yang remeh temeh seperti itu saja sudah tidak dihargai, lantas untuk apa memahami undang undang perlindungan hak cipta? Toh, mereka terbiasa menganggap bahwa salin tempel itu hal yang biasa, yang diasumsikannya bisa membantu pihak lain tanpa mereka sadar kalau kegiatan salin tempel itu merugikan si penghasil karya (atau yang akhirnya bisa menjawab ujian).

Budi pekerti. Itulah yang ingin diangkat dan ditekankan oleh Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui kegiatan 15 menit membaca (free voluntary reading). Secara singkat, anak yang dibiasakan membaca sedari kecil akan memiliki rasa empati dan simpati terhadap sesamanya, sehingga ia bisa menghargai individu dan makhluk hidup lain. Diharapkan dari kegiatan 15 menit membaca tersebut paling tidak si anak tahu bahwa aksi salin tempel adalah aksi yang salah. Namun sayangnya, banyak orang dewasa di luar sana yang tidak mau tahu apakah si anak punya budi pekerti atau tidak sebab sebagian besar orang dewasa di dalam society dimana kita tinggal berorientasi pada hasil saja. Alhasil, meskipun Kemdikdasmenbud RI berupaya membuat free voluntary reading sebagai pembiasaan yang berhasil, rasanya masih mustahil membuat kampanye menghargai karya orang lain. Toh orang dewasa seakan tutup mata dengan aksi sontek menyontek sepanjang hasilnya sesuai dengan harapan (mereka dan society).

Anak-anak yang kemudian bertumbuh menjadi remaja katanya adalah mesin salin yang paling ampuh. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa bisa ditirunya. Mengatakan bahwa sontek menyontek adalah cara menunjukkan solidaritasnya terhadap teman satu angkatan membuat ia merasa bahwa aksi salin tempel kurang lebih sama dengan membantu mereka yang tidak bisa mendapatkan hasil karya secara resmi/legal. Kira-kira, jika orang dewasa yang terdekat dengan si anak mengatakan kalau sontek menyontek itu hal yang lumrah di society, akankah kampanye undang-undang perlindungan hak cipta bisa menggapai keinginan para pembuat karya (yang hidup dari karyanya) untuk menghentikan aksi pembajakan?

NB: pemikiran lain mengenai bajak pembajakan karya sila membaca buku Indiepreneur karangan Pandji Pragiwaksono.

— October 5, 2015

What Do You Think?