“Yang mereka nggak tahu adalah bagaimana aku mencoba mempertahankanmu.”

Percakapan itu terjadi sekitar 3 bulan setelah hubunganku dengan seseorang diakhiri secara sepihak. Kebisingan yang sempat mencuat tahun lalu merayap naik. Semakin lama semakin muncul permukaan. Seakan-akan memang ingin diperhatikan. Begitu kencang hingga aku yang semula merasa biasa saja lama-lama terusik juga.

“Kalau memang dari awal aku mau rebut dia dari kamu, buat apa aku mencoba segala cara supaya kamu tetap ada di sini?”

Kami menghabiskan malam hingga subuh dengan percakapan yang sangat dalam. Bukan sekadar dua orang yang “dijadikan” pion dalam suatu isu, melainkan percakapan hati ke hati. Percakapan yang lebih dari sekadar meluruskan isu. Percakapan yang akhirnya membuat kami berdua tahu, kalau ada saja orang-orang yang suka menyusun asumsi pribadi untuk kesenangan semata. Membagikan asumsinya itu untuk menciptakan narasi-narasi baru. Yang sayangnya, tanpa mengonfirmasi kepada kami sehingga memperburuk kondisi mentalku saat itu.

Hubunganku (dengan seorang lelaki) diakhiri tepat 4 hari sebelum aku berulang tahun ke-26 tahun ini. Meskipun dia bukan orang pertama yang tahu, tapi dialah orang pertama yang mengajakku untuk punya waktu berdua berfoto bersama. “Hari Rabu ya!” dan tanpa ku sangka ia mengunggah foto itu ke dalam akun Instagramnya disertai doa-doa baik. Kado darinya bisa dibilang yang paling manis. Manis, karena ketika ia tengah berada di negeri orang yang saat itu sibuk untuk kegiatan gereja, ia masih ingat kapan aku berulang tahun. Setahun yang lalu, ketika ia merayakan paskah di Belanda pun masih saja membawakanku oleh-oleh buku (yang kala itu belum banyak beredar di Indonesia).

“Apa pernah kamu tanya ke aku bagaimana aku melihat kamu selama ini?”

Pertanyaan itu keluar darinya saat aku mengawali konfrontasi terlalu emosional atas nama klarifikasi terhadap semua isapan jempol akan hubungan mereka. Aku akui tahun ini menjadi tahun yang berat untukku, tapi dia yang menjadi orang terdekat yang sayangnya, selalu luput untuk dilihat. Padahal ia sudah mewanti-wanti, sudah memberikan saran, namun tetap saja aku abaikan. She’s such a long lost sister to me. Menjadi penyeimbang ketika secara emosi, aku sudah tidak bisa mengatur diriku sendiri. Ia “mengembalikan” keadaanku melalui pertanyaan-pertanyaan yang membuatku berpikir secara logis. Baginya, mengajari aku yang keras kepala ini tidak bisa dengan sekadar menunjukkan dan memberikan penjelasan. Tetapi dengan sabar, ada saja caranya untuk membuatku kemudian berhenti sejenak dan kembali menimbag secara rasional.

Perhatiannya kepada beberapa orang kerap disalahartikan. Kedekatannya dengan beberapa orang selalu menjadi sebuah bahan. Katanya, semua orang sudah sibuk dengan penilaian masing-masing tanpa mau melihat dengan keadaan “gelas yang kosong.” Yang lalu, penilaian itu tersebar cepat, membuat namanya lagi-lagi menjadi obrolan beberapa lingkaran. Termasuk ketika berakrhinya sebuah hubungan.

Mereka cuma belum kenal dekat. Mereka belum paham betul bagaimana cara berpikirnya. Orang bilang, dia tidak pernah meluapkan amarah (tapi itu bukan berarti dia tidak marah, kan?). Hanya sedikit yang tahu bagaimana dia begitu fokus dengan tujuannya dan sangat berusaha untuk menjaga pikirannya agar tetap positif. Tidak banyak yang sadar, bahwa ia tidak pernah mengusik urusan hidup orang lain. Selayaknya anggota pemain biola dalam orkestra, ia memerhatikan dengan baik buku partitur miliknya (bukan melirik-lirik dan mencampuri buku partitur orang lain) dan tidak mulai berasumsi. Aku curiga, jangan-jangan ia sendiri sudah mempraktikkan kaidah dalam ilmu filsafat — Filsafat Stoic dan Fenomenologi.

Ketika ia mendapatkan promosi untuk naik jabatan, tepatnya menjadi atasanku secara langsung, jujur saja aku senang. Tidak ada iri sama sekali sebab aku tahu, dialah yang paling bisa menjaga emosi. Kami yang awalnya adalah sepasang teman dari satu program mentorship, kemudian menjadi semakin dekat karena setiap kali aku bercerita kepadanya, tidak ada penghakiman darinya. Hingga aku bersyukur, dialah yang menjadi pemimpin di dalam tim kecil kami. Aku bisa sangat terbuka ketika isu tentang orang ketiga semakin menjadi badai yang kencang. Ia bertanya, “Kenapa sih kamu yang diganggu? Mereka nggak berani ya nyerang aku?”

Pagi itu, pukul 4 subuh, kami mengakhiri percakapan mendalam dengan sama-sama berterima kasih. Berterima kasih karena ia mau mendengarkan dan membantuku untuk kembali kuat di saat semuanya berusaha menjatuhkan kami. Dan ia pun berterima kasih, karena sudah mau menceritakan semua hal, termasuk isu-isu yang beredar selama ini di balik tubuh kami.

“Aku cuma pengin kamu bahagia.”

Ketika atasanmu adalah teman dekatmu–akan terasa sangat menyenangkan dan aku merasa sangat beruntung.

Selamat ulang tahun, Vania Decone Jolanda, The Lighthouse to my sailing ship. Semoga semua kebaikan yang kamu bagikan kepadaku, dibalas Tuhan dan semesta dengan hal-hal baik yang lebih besar. Tidak perlu mendengarkan kalimat sumbang. Biarkan saja mereka asik sendiri dalam asumsi. Aku terus mendoakanmu agar suatu saat nanti menjadi seorang menteri.

Dan untuk orang-orang yang mencoba membuat kabar-kabar tidak menyenangkan soal kami berdua: you are messing up with wrong persons. Of course I told her, we are Surabayanese dan orang Surabaya, lebih suka semua dibahas terbuka :p

— December 1, 2019

One thought on “The Lighthouse to My Sailing Ship

  1. Baru pertama kali baca blog nya Hesti. Kok nyaman dibaca ya! Aku tau soal ini haha. Semoga orang-orang yg hanya berani mencibir kamu, bisa kamu lihat dari pandangan positif dimana orang-orang itu lebih perhatian dan khawatir denganmu, Hes. Ketika orang-orang tersebut tidak langsung menegur si dia, ketahuilah sisi positifnya mungkin dia sudah lebih banyak mendapatkan perhatian.
    Ditunggu cerita lain yang lebih keren ya!! Cayo~

What Do You Think?