Sejak bulan Agustus 2019, aku kerap membuat pertemuan dengan para pembaca buku. Kami sama-sama meluangkan waktu di hari Minggu, sebulan sekali, selama dua jam hanya untuk membaca di kedai kopi di Jakarta. Lalu kemudian negara api–eh maksundya pandemi ini datang. Membuat pertemuan fisik menjadi aktivitas yang paling dihindari kini. Entah sampai kapan.

Baca Bareng Jakarta terakhir sebelum aku pulang ke Surabaya dan adanya himbauan pembatasan sosial – Januari 2020

Berbarengan dengan hal tersebut, aku pulang ke rumah di Surabaya. Sebenarnya aku sudah merancang beberapa kegiatan perbukuan mengingat betapa teman-teman di Surabaya katanya, ingin punya agenda yang sama serunya dengan di Jakarta. Lalu, himbauan pembatasan sosial pun berangsur terbit. Membatasi ruang gerak kami dalam rangka menekan angka penyebaran virus.

Sebagai orang yang ingin tetap berhubungan dengan sesama pembaca buku, aku mulai melihat beragam peluang. Dibantu oleh teman-teman yang lain serta arahan dari Silent Book Club pusat yang ada di Amerika Serikat sana, aku berinisiatif untuk memindahkan pertemuan fisik ke dalam dunia maya. Kami memanfaatkan teknologi untuk melakukan Baca Bareng.

Baca Bareng Daring (Dalam Jaringan) begitulah aku menamainya. Aku menyebarkan pengumuman ke baragam akun media sosialku sekaligus membuka kesempatan untuk teman-teman yang selama ini ingin ikut Baca Bareng tetapi terkendala lokasi. Mereka hanya perlu mengatakan padaku bahwa mereka ingin ikut serta. Lalu aku akan memberikan sebuah tautan beserta aturan main untuk dapat bergabung ke dalam room Baca Bareng.

Pertama kali aku mengadakannya di bulan Maret 2020. Bermodalkan akun ZOOM, aku mencoba membuat kegiatan Baca Bareng Daring. Waktu itu baru 12 orang yang bergabung dan durasi yang aku gunakan hanya 30 menit. Ternyata komentarnya positif. Mereka menunggu sesi selanjutnya dengan durasi yang lebih panjang.

Aku menjadikan Baca Bareng Daring di bulan Maret sebagai uji coba. Dari situ aku mulai mengevaluasi hingga akhirnya aku melanjutkannya di bulan April 2020. Durasinya menjadi 60 menit dan aku menyebarkan informasi secara rutin selama satu minggu. Hasilnya? Ada 27 partisipan yang ikut “meramaikan” acara.

Baca Bareng Daring April 2020 diikuti oleh partisipan dari beragam kota.

Memangnya tidak aneh ya?

Seringkali yang menjadi kendala dalam membaca adalah “tidak adanya waktu.” Padahal, semua itu hanya karena prioritas saja. Membaca buku dianggap sebagai kegiatan sampingan. Ia tidak dianggap sepenting mengerjakan to-do-list harian. Selain itu, tidak berada di lingkungan yang sama-sama sedang membaca juga membuat urgensi kegiatan itu semakin rendah. Maka dari itu, Baca Bareng Daring menjadi sebuah kegiatan yang ternyata membantu teman-teman pembaca untuk “menganggap penting kegiatan membaca.” Meskipun hanya “ditemani” melalui web cam, nyatanya mereka bisa mendapat beberapa puluh halaman dalam waktu satu jam. Termasuk aku.

Tentu aku senang jika apa yang aku mulai bisa membawa manfaat kepada orang lain. Sederhana saja, bermodalkan perangkat elektronik, kuota internet, dan bacaan maka kamu sudah bisa ikut serta dalam Baca Bareng Daring. Untuk bisa bergabung, pantau terus akun media sosialku ya!

— May 5, 2020

What Do You Think?