Siapa yang sudah merasa lelah? Dengan pandemi maupun dengan kebijakan yang suka gonta-ganti sana-sini.

Aku rasa hampir semua orang yang aku kenal kini berusaha sebaik mungkin untuk bertahan hidup. Mereka melakukan apapun untuk menjaga kewarasan. Pesan masuk berulang kali berisi kabar duka. Rasanya stok sedih semakin lama semakin tipis. Sampai kelu menanggapi “Innalillahi.”

Dari beberapa opsi hiburan, aku memilih untuk kembali lagi dengan membaca. Tumpukan buku fisik dan digitalku menggunung. Keduanya bisa menjadi alasan solid untuk membuat masa-masa pandemi ini bisa dilalui. Tapi ternyata, dari varian judul yang aku punya, tetap saja kembali pada bacaan dengan tema yang aku suka: cerita detektif dan polisi, thriller psikologi, kisah-kisah misteri di balik pembunuhan.

Bermula dari And Then There Were None

Sejak bisa membaca hingga kelas 5 SD, aku gemar membaca komik. Uang saku dihabiskan di rental komik depan sekolah. Membaca Slam Dunk, Prince of Tennis, X 1999, dan masih banyak lagi. Hingga akhirnya mama mendekatiku suatu siang ketika aku tengah membaca komik di sofa. Katanya, “Mama punya bacaan bagus deh. Kamu nggak mau coba?”

Percakapan pun terjadi sembari mama menyodorkan sebuah judul, And Then There Were None, yang ditulis oleh Agatha Christie. Mengikuti rekomendasi dari mama, aku malah tenggelam masuk ke dalam cerita 10 orang yang terdampar di suatu pulau. Kematian satu per satu mendorong rasa penasaranku untuk menyelesaikan hingga akhir. Sekitar 2 hari kemudian, aku bertanya kepada mama apakah ada buku serupa seperti ini yang bisa aku baca. Mama memberikan koleksi Sherlock Holmesnya, “Coba yang ini.”

Aku dulu berasumsi kalau membaca buku yang isinya hanya teks saja membosankan. Seringkali aku bergumam heran bagaimana bisa kedua orangtuaku sanggup menyelesaikan bacaan tanpa ada gambar sedikit pun (jika dibandingkan dengan komik). Tapi ternyata, aku hanya butuh diberikan sesuatu yang menggugah untuk terus membaca. Mama secara tepat “menembak”-nya tepat sasaran.

Berkenalan dengan V. Lestari

Ketika di bangku SMP, aku dikelilingi teman-teman yang suka membaca novel tebal seperti Harry Potter, Lord of The Rings, dan Eragon. Di kelas kami dulu, ada satu orang teman yang punya koleksi secara lengkap dan secara bergantian meminjamkan bukunya. Perpustakaan sekolah kami belum punya buku-buku itu sehingga kalaupun aku ingin ikut membaca, aku harus mengantre lama. Sebagai remaja, siapa sih yang mau ketinggalan kehebohan topik pembicaraan teman-teman sekelasnya?

Lagi-lagi aku kembali kepada mama. Menanyakan referensi bacaan disamping novel-novel tebal itu. Melihat rekam jejak bagaimana aku menikmati Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle dalam Sherlock Holmes, kali ini mama merekomendasikan V. Lestari, seorang penulis dari Indonesia.

V. Lestari menulis kisah pembunuhan berbalut sesuatu yang mistik. Kadang-kadang ada intrik perdukunan juga di dalamnya. Judul yang pertama kali kubaca ialah Pertemuan di Sebuah Motel. Sampulnya warna biru dan bukunya berformat mass market paperback. Tebal dan aku butuh kurang lebih seminggu untuk dapat menyelesaikannya.

Aku takjub dengan gaya penceritaan V. Lestari. Bagaimana ia menulis dengan blak-blakan dan vulgar. Sesuatu yang aku sama sekali tidak familiar. Ingat, aku membacanya ketika masih duduk di bangku SMP. Mama bilang kalau begitulah caranya V. Lestari menyusun narasi.

(Menulis ini aku jadi rindu tulisan V. Lestari)

Hingga Pada Penulis Lain yang “Underrated”

Memang betul, kalau ada pasarnya maka bukunya juga akan tersedia di Indonesia. Mendapatkan sorotan atau bahkan media promosi yang besar-besaran sehingga orang jadi tahu tentang buku itu. Tetapi ada juga buku yang sebenarnya bisa dinikmati namun tidak begitu terekspos.

Perkenalanku dengan penulis cerita polisi Faye Kellerman dan Tami Hoag karena guru bahasa Inggrisku di tempat kursus. Ketika itu 2014, aku sedang melakukan magang di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang ada di Senayan. Miss Nana (begitu aku memanggilnya) yang sudah lebih dulu bekerja di Jakarta ingin berjumpa dan mengajakku makan siang. Dia bilang, sekalian ingin memberikan bacaan sebagai teman selama aku magang di ibukota.

Dari beberapa buku yang diberikannya kepadaku, ada tulisannya Faye Kellerman (Gun Games) dan Tami Hoag (Secrets to the Grave). Aku awalnya tidak tertarik. Siapa mereka berdua? Namanya asing buatku. Namun aku tetap saja mencoba dan menjadi semakin suka.

Sekarang pun setiap kali ada diskonan buku mereka, aku mengusahakan untuk dapat membelinya. Cerita tentang pembunuhan dari sudut pandang institusi kepolisian kumasukkan ke dalam label comfort genre.

Penelusuranku terhadap buku-buku yang masuk ke dalam comfort genre tidak sampai di situ saja. Dengan ikut ke dalam klub buku, berkenalan dengan sesama pecinta buku membawaku pada penulis lain yang ingin aku coba juga. Salah satu Bookdragon yang aku rekomendasikan apabila kamu juga ingin tahu buku genre ini adalah kak Kanaya Sophia. Kak Aya rajin sekali mengunggah kabar maupun resensi buku dari genre detective and thriller.

Dengan eksplorasi yang sampai sekarang dilakukan, aku jadi berkenalan dengan beberapa penulis yang lebih beragam lagi (baik secara ras maupun gender). Barangkali kamu mau mencoba juga?

Penulis perempuan:

Penulis laki-laki:


Itulah caraku untuk bertahan hidup di saat pandemi dengan angka positif yang terus meninggi. Kembali kepada tema bacaan yang membuatku nyaman setidaknya bisa meredakan overthinking belakangan ini. Semoga kamu sehat selalu!

— July 17, 2021

2 thoughts on “O, To Be Back to My Comfort Genre

  1. Seru banget ini dikasih rekomendasi dari ortu sendiri! 😀 Tante kapan-kapan bikin bookshelf tour yang ada di Surabaya dong….

    Gue paling stres (saking kesedotnya ke dalam cerita) baca novel fiksi itu ya sama tulisan-tulisannya Gillian Flynn :))

    Devotion of Suspect X udah beli dari beberapa bulan yang lalu, nih. Sering disebut one of Kigashino’s best works ya. Disebut juga di sini jadi langsung naik urutannya di TBR hahaha.

  2. Kalau cerita detektif, ku paling akrab sama Detektif Conan. Hahaha. Kenapa yaa, aku tuh nggak gampang nyambung kalo baca buku genre ini. Kayak udah lebih terbiasa nonton film yang sudah jelas bakal dicekoki visualnya sehingga nggak perlu susah bayanginnya. Padahal kalo lagi baca buku-buku bergenre kayak gini, kalo rasa penasarannya udah menjadi-jadi, yakin deh… pasti kepengin balik halamannya terus. Nggak sabar tahu ending-nya apa. Wkwkwk 😀

What Do You Think?