Sebelumnya ditulis di Goodreads untuk resensi buku Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us

The problem with making an extrinsic reward the only destination that matters is that some people will choose the quickest route there, even if it means taking the low road.

Daniel H. Pink
Image

Yang namanya perjalanan untuk mengenali diri memang tidak ada habisnya. Proses tersebut paralel dengan pertumbuhan manusia. Baik secara fisik, batin, atau pola pikir. Di sinilah aku bertemu dengan persimpangan dan kembali bertanya, “Apa yang dicari lagi sejauh ini?”

Pertanyaan-pertanyaan terkait cukupkah kita bekerja hanya alasan keuangan/finansial seringkali bermunculan pada anak muda yang baru saja lulus kuliah atau mereka yang belum menyentuh usia kepala 3. Bagi masyarakat seperti di Indonesia, mencari uang tidaklah perlu banyak cakap. Tidak perlu terlalu selektif. Apa yang ada di depan, lakukan saja. Kata mereka yang boomers, sikap memilih akan membuat anak muda kesulitan di masa depan.

Benarkah demikian?

Tahun 2016, ketika aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu mentee dalam program mentorship, menerima pekerjaan apapun di sebuah kantor konsultan menjadi hal yang tidak lagi bisa ditawar. Ingat betul bagaimana aku diminta untuk pulang ke Surabaya (sebagai “hukuman”) setelah mengatakan bahwa mengerjakan proyek video bukanlah hal yang memunculkan spark joy (hingga sekarang aku tidak suka membuat video, lho).

Yang kedua, masih di kantor yang sama, mantan pacarku pernah berujar bahwa orang yang memilih-milih pekerjaan hidupnya sungguh ribet. Dia menganalogikan dengan ujaran, “Tinggal makan aja apa susahnya sih?” Padahal, di balik “tinggal makan aja” ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Dan pertimbangan orang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamakan. Aku memikirkan kalau mengerjakan sesuatu yang tidak “spark joy” adalah beban. Itu tidak sama dengan orang lain yang mengatakan kalau “yang penting dibayar.” What drive us is different.

Setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri pada 2020, membaca menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan. Aku juga “bertemu” secara daring dengan teman-teman yang bergerak dalam isu HAM. Termasuk di dalamnya mengangkat isu modern slavery. Aku memahami bahwa “memilih pekerjaan” bukan semata-mata masalah kenyamanan gaji saja sebagai modal ekstrinsik. Melainkan juga pemenuhan hak mendasar sebagai manusia: jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan (BPJS). Kalau anak muda dicekoki dengan “tidak usah pilh-pilih pekerjaan” maka sudah bisa dikatakan mereka akan masuk perangkap modern slavery. Tapi hal ini kita bahas lain kali.

Lantas, apakah dengan upah yang layak dan kompensasi yang manusiawi, seorang manusia bisa bekerja dengan giat? Logikanya sih begitu. Tapi praktiknya tidak semudah itu.

Daniel H. Pink kemudian menuliskan bahwa Motivation 2.0 seringkali hanya membuat seseorang punya tujuan jangka pendek. Selain upah, menerapkan konsep “if-then” yang salah malah membuat seseorang yang melihat ujungnya saja, tanpa mengintegrasikan nilai diri. Misal, apabila seorang Sales bisa menjual 3.000 eksemplar buku dalam 1 bulan, maka ia mendapatkan hadiah berupa jalan-jalan ke Singapura selama 3 hari gratis. Pink menjelaskan, motornya hanya sebatas mendapatkan hadiah. Orang tersebut tidak terdorong untuk mencoba memutar otak secara kreatif. Bahkan, sangat mungkin adanya peluang untuk berbuat curang. Hal serupa juga berlaku pada konsep “reward and punishment” yang sudah sering kita dengar. Mencurangi sistem agar tidak perlu bayar denda atau mendapatkan hukuman.

Pink mengatakan, “We need upgrade.”

Human beings have an innate inner drive to be autonomous, self-determined, and connected to one another. And when that drive is liberated, people achieve more and live richer lives.

Daniel H. Pink

Kembali pada istilah “spark joy” dalam melakukan pekerjaan, rupanya itu hal yang dicoba Pink. Motivation 3.0 mengedepankan modal instrinsik manusia untuk bekerja: dorongan dalam diri atau motivasi. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, masing-masing orang punya motivasi berbeda. Ketika itu, aku lebih memilih mengurus artikel dan buku ketimbang ikut turun memproduksi video. Sebisa mungkin, aku tidak mendapatkan giliran sebagai asisten ketika ada proyek pengambilan gambar.

Lebih jauh, Pink mengatakan kalau pendekatan pada Motivation 3.0 menekankan pada 3 hal:

(1) Autonomy—the desire to direct our own lives; (2) Mastery—the urge to make progress and get better at something that matters; and (3) Purpose—the yearning to do what we do in the service of something larger than ourselves.

Saat membaca bagian tersebut, aku seperti mendapatkan jawaban atas, “Apa sih yang aku cari? Kan sudah ada di industri.” Rupanya aku menginginkan suatu proyek di mana bisa secara leluasa mengeksprsikan diri, mengintegrasikan nilai yang aku amini tanpa terhalang birokrasi. Kalau dipikir-pikir, aku bisa melakukannya dengan persona pribadiku maupun melalui Baca Bareng. Membuka keran untuk beragam kolaborasi supaya mencapai “mastery.” Hingga akhirnya menuju pada titik Purpose–kalau dalam piramida Maslow, puncak tertingginya: self-actualization. Tanpa ketiga hal itu, barangkali aku cuma menjadi zombie. Sekadar bekerja untuk menyambung hidup dari gaji ke gaji.

Maka dari itu, boomers barangkali harus berhenti mengatakan kepada anak muda untuk tidak pilih-pilih pekerjaan. Lah, zamannya saja sudah berubah dengan begitu cepat, tentu saja manusia di dalamnya juga ikut berkembang. Pemikiran yang hanya bertumpu pada Motivation 2.0 hanya berbuah pada manusia yang “menyelesaikan ala-kadarnya” tapi tidak membawa nilai plus (added value) baik untuk organisasi ataupun lingkungan sekitarnya. Sudah waktunya untuk menormalisasi membiarkan anak muda untuk eksplorasi sebanyak mungkin peluang yang bisa ia miliki/ciptakan/tekuni. Sembari memancing mereka agar berpikir lebih kritis. Bukan malah “dibego-begoin.” Sebagaimana Motivasi 3.0 yang bertujuan membuat manusia menjadi jauh lebih kreatif dan produktif secara sehat.

— September 28, 2021

What Do You Think?