Sama halnya seperti tahun sebelumnya, aku suka meninjau ulang kebiasaan baca yang telah kulakukan selama setahun. Terbantu dengan keberadaan Goodreads serta reading tracker menggunakan Ms. Excel, aku bisa mencatat judul yang berhasil aku selesaikan.

Sebagai seorang Bookdragon yang juga berlatar pendidikan Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan, aku meyakini bahwa individu bertumbuh bersama dengan bacaannya. Artinya, ada perubahan selera baca, kebiasaan baca, atau mungkin tujuan dari kegiatan baca itu sendiri seiring dengan perkembangan pola pikir. Bagaimana pun juga, manusia terbentuk dari pengalaman hidup selain dari informasi yang dikonsumsinya.

Apa yang Aku Pelajari pada 2021

Dibandingkan tahun 2020, pada tahun 2021 aku cuma membaca 168 judul. Selisih 20 angka. Ini bisa dimengerti sekali. Pada 2020, aku sempat menjadi pengangguran selama 3,5 bulan yang menyebabkan jumlah bacaan yang kulahap juga lebih banyak. Tahun 2021, aku sudah bekerja penuh waktu plus punya sampingan. Mengatur waktu baca menjadi lebih tricky kali ini. Tetapi, apakah pencapaian yang aku banggakan adalah perkara angka yang konstan di atas 150 judul? Tidak.

Sejak berkenalan dengan Devina pada pertengahan 2019 lalu, aku juga berkenalan dengan jenis bacaannya dan isi kepalanya. Berkat Devina pula aku bersedia memperluas bacaanku. Jadi kenal dengan apa itu kesetaraan gender dan kemiskinan struktural. Berangsur-angsur, aku menambahkan check list dalam daftar baca setiap tahunnya: membaca karya perempuan dan membaca karya penulis kulit berwarna (bukan dari Amerika Serikat atau Eropa). Maka sejak 2020, reading tracker yang digunakan menambahkan field untuk identitas penulisnya.

Aku cukup bangga dengan hasil akhir dari apa yang kubaca. Sebanyak 93/168 judul yang berhasil diselesaikan ditulis oleh non kulit putih. Menandakan bahwa aku bersedia untuk un-learn dan mendesentralisasi + mendekolonialisasi isi kepala. Mengenai hal ini, sudah pernah aku tuliskan di sini.

Tahun 2021 merupakan tahun aku mengenal diriku. Secara sadar ingin memperbaiki hubungan dalam diri melalui bacaan bertema psikologi dan ilmu pengasuhan. Serta, membiarkan diriku “lepas” apa adanya dalam membaca. Benar-benar mengikuti rasa penasaran dan impulsif ketika memilih apa yang dilahap selanjutnya. Bersamaan dengan itu, aku menyadari kalau belum banyak tahu tentang ini-itu. Memang masih butuh banyak belajar. “Sit down, be humble” sebab kata pepatah “Padi semakin berisi semakin merunduk” agar tidak menjadi “tong kosong nyaring bunyinya.”

Lalu, 2022 Mau Baca Apa Saja?

Ohya, aku gagal menuntaskan tantangan baca yang ku inisiasi: 21 Books in 2021. Dari 21 judul yang ingin dibaca, ternyata hanya 7 saja. Hal ini semakin memvalidasi hipotesaku bahwa aku memang tidak bisa dibatasi dalam membaca. Dominasi mood yang menyetir selama ini.

Tapi, apakah aku kapok? Hehe.

Punya partner yang juga seorang pembaca cukup membuatku excited. Aku pun mencanangkan HxH Book Bingo bersamanya. Yah, kami juga tidak tahu apakah berhasil atau tidak. Toh, kami juga berjanji tidak akan membuatnya sebagai beban.

templatnya bisa dicek di BBBBookClub

Selain rencana baca yang kami punya, aku berniat untuk mengkesplorasi buku sains & fiksi sains pada 2022. Makanya, kalau boleh diberi tema, 2022 punya “The Year of Science (Fiction).” Ide ini muncul karena penasaran dengan bacaan-bacaan ayahku. Sejak aku bekerja di sebuah penerbit besar dalam asuhan media ternama, ayah sering titip beberapa judul untuk dibeli menggunakan diskon karyawan yang kumiliki. Sebenarnya ayah tidak melarang jika aku ingin baca duluan. Tapi rasanya kasihan juga kalau ayah harus menunggu sampai aku selesai baca… Yah, mumpung koleksinya sudah ada di rumah Surabaya, jadi sekalian saja aku jadikan tantangan baca.

Untuk sisanya masih sama: membaca lebih banyak perempuan dan lebih banyak karya penulis non kulit putih. Aku masih ingin mendesentralisasi dan mendekolonialisasi isi kepala agar semakin punya modal untuk beropini terkait inklusivitas.

Tapi kembali lagi, aku selalu mengutamakan perasaan senang ketika membaca. Apabila pengalaman bacanya sudah tidak lagi menyenangkan, maka aku tidak perlu berpikir dua kali untuk meninggalkannya begitu saja.

— January 3, 2022

What Do You Think?