Eh tenang, judul di atas bukan karena unggahan Instagram seorang influencer kok! Melainkan tentang insight yang aku dapatkan sejak rutin melakukan pencatatan bacaan (reading tracking) pada 2020. Kebiasaan ini membuatku semakin menyadari tentang pentingnya memerhatikan beberapa hal sebelum membaca. Bahasa gaulnya, being a conscious reader.

Sebelum itu, aku ingin menegaskan bahwa dalam melakukan kegiatan baca, temukan dulu kenikmatannya. Tidak ada yang salah apabila senang membaca komik atau novel metropop. Melalui bacaan favorit, diharapkan kebiasaan baca bisa tumbuh dan mengakar kuat dalam diri, yang kemudian membawa kita pada bacaan-bacaan lain. Kalau kalian belum pada tahap mengecek latar belakang penulis atau hal-hal detil dari bacaan, tidak masalah! Itu akan berjalan seiring dengan berkembangnya isi kepala & pola pikir kita.

Jadi, belajar apa dari pencatatan bacaan?

Pada 2019, aku bertemu banyak sekali teman baru di dunia buku dan literasi. Di awali dengan bertemu Devina yang membawa pada perkenalan penulis di luar radarku (Lidya Davis, Ursula K. Le Guin, dll), bertemu Sintia dan kesukaannya dalam membaca puisi, Nada dengan bacaan feminis & radikalnya, serta Griss yang hampir setiap minggu selalu ada buku bertema behavioural economics dalam daftar resensinya. Perluasan pertemanan (terima kasih, Internet!) membantuku menjadi pembaca yang lebih sadar dalam memilih judul dan penulis. Ini bukan berarti aku membuat hidupku rumit, ya. Aku hanya memberikan catatan kecil dalam kepalaku tentang latar belakang penulis. Tujuannya adalah agar aku tidak serta-merta menelan mentah-mentah apa yang ditulis dalam buku.

Membuat reading tracker rupanya memudahkanku dalam menelusur penulis yang aku baca. Pada 2020, masa di mana aku memutuskan untuk mencatat judul yang berhasil diselesaikan, aku tidak terlalu ngoyo. Ketika itu, aku hanya ingin melihat kecenderungan bacaanku. Apakah penulis laki-laki yang karyanya paling banyak kubaca? Apakah aku sudah mengeksplorasi cukup jauh karya penulis kulit berwarna (author of color)?

Tentang hasil reading tracking 2020, bisa dibaca di sini ya!

Apakah ada perkembangan untuk 2021?

Sejujurnya, aku belum berani memiliki target yang tinggi dalam menentukan daftar bacaku tahun 2021. Tetapi aku mencoba memberanikan diri dengan tantangan 21 Books in 2021. Aku tahu sekali, kebiasaan membacaku sangat dipengaruhi oleh mood. Maka dari itu, memasang target baca dalam bentuk judul seperti ini adalah sebuah level up the game bagiku.

Beda soal dengan pencatatan bacaan. Meski buku yang masuk pada 21 Books in 2021 sudah kumasukkan karya penulis perempuan & karya penulis kulit berwarna, aku juga mendorong diri agar lebih banyak mengarah kepada dua identitas penulis itu. Syukurlah, meski 2021 baru berjalan 6 bulan, rupanya aku sudah punya sedikit kemajuan: membaca lebih banyak karya dari penulis kulit berwarna!

Sekalian saja aku tampilkan hasil pengambilan dataku dari reading tracking per 24 Juni 2021 (klik gambar untuk melihat lebih jelas):

Apa kesimpulannya?

Pencatatan bacaan sangat membantuku untuk menyadari karya siapa saja yang aku baca, dominasi genre yang saat ini aku gandrungi, ataupun alasan di balik mengapa kemampuan menulis bahasa Indonesiaku malah mengalami penurunan. Pencataan bacaan ini sangat bersifat personal. Kita boleh saja melirik template-nya, tetapi dalam pengaplikasiannya bisa saja yang dievaluasi berbeda.

Seperti yang sudah aku katakan di atas, reading tracker membantuku menjadi pembaca yang lebih sadar. Dan dengan menjadi pembaca yang lebih sadar, aku berharap tidak terperangkap dalam bias-bias yang ditawarkan oleh penulis & diciptakan oleh pasar. Jangan hanya karena bukunya berjudul “Kiat Sukses Sebelum Berusia 30 Tahun”, aku memutuskan untuk membacanya tanpa mengecek dulu siapa penulisnya. Sebab, bisa saja penulis memang sudah punya privilese terlahir dari kalangan pengusaha kaya raya…

— June 26, 2021

3 thoughts on “Dari Pencatatan Bacaan (Reading Tracking), Aku Belajar…

  1. Aku langsung mencari apakah ada bacaan yang sama di reading list-mu dan punyaku, lalu ceki-ceki juga apakah Griss udah/bakalan baca. Buku apa yaaa yang bisa dijadiin bahan diskusi lagi. HAHA. *harus ambi biar reading plan terpenuhi*

    • Bikin reading tracker ini mirip kayak expense tracker. Kelihatannya merepotkan, tapi penting biar mindful. Thank you for sharing, Hes!

  2. Jujur saya terinspirasi sama pola ‘read diverse’ yang Hesti aplikasikan. Salah satu contohnya, waktu itu pernah liat Hesti post buku ‘Invisible Women’nya Caroline Criado-Perez dan langsung buat saya tertarik buat baca sebagai pengimbang buku ‘Factfulness’nya Hans Rosling. Ke depannya juga ingin mulai ngelirik bacaan dari penulis kulit berwarna. Semoga nanti dapat yang cocok.

What Do You Think?