Sebagai seorang yang mengklaim dirinya sendiri seorang Pelantang Buku (Bookfluencer), membuat viral sebuah campaign bukanlah hal asing bagiku. Menjadikan produk buku mendengung dan bergema dalam rentang waktu tertentu diharapkan terkonversi menjadi pembelian. Kalau bisa, langsung mendulang keuntungan. Maka jangan kaget jika ada brand yang bersedia merogoh kocek dalam. Bermain-main dengan pola pikir target pasarnya sehingga membentuk respon tertentu. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh beberapa brand lokal dengan mengiklankan diri di New York Square demi menciptakan decak kagum dan efek viral yang seolah-olah alami nan organik.

Itu belum seberapa. Berbicara tentang masyarakat informasi (information society) tidak lepas dari kemampuan berliterasi secara mendasar dan dalam konteks digital. Mereka yang belum ajeg sedari awal, memahami apa itu berliterasi yang tidak sekadar membaca, menulis, berhitung akan merasa gagap terhadap kehadiran Internet. Lompatan kemampuan begitu terasa di tengah derasnya arus informasi yang seakan-akan benar. Padahal diantaranya terselip hoaks, identitas palsu, dan social engineering yang berpotensi disalahgunakan. Tanpa tedeng aling-aling, siapa pun bisa terseret tanpa ampun.

Yang Menguasai Informasi, Yang Mengontrol Tragedi

“The more one knows, the more one will be able to control events.” – Francis Bacon

Berkenalan dengan Sam-goong, Chatatkat, dan 01810. Tiga orang yang berada dalam sebuah kelompok bernama Tim Aleph. Masing-masing ahli menyusun strategi, merangkai narasi, dan permainan komputasi. Di saat hampir semua orang berkarib dengan Internet, Tim Aleph sudah punya modal untuk “menguasai dunia.” Lingkup penguasaan Tim Aleph lebih dari sekadar diriku yang cuma berkutat di ekosistem literasi. Tim Aleph bisa menjangkau hingga tataran sosial-politik (atau bahkan kekuasaan oligarki?).

“Amarah dan kebencian adalah cara paling ampuh untuk memancing emosi publik.” β€” hlmn. 52

Ikut dalam “Internet War” sudah bukan barang baru bagi mereka. Tidak peduli kekacauan apa yang disulut, selama Tim Aleph mendapatkan bayaran maka diterimalah segala macam permintaan. Termasuk ketika imbalan yang semakin besar berbanding lurus dengan tingkat kesulitan misi yang harus diselesaikan. Chatatkat dan 01810 sempat ragu. Tapi dengan otak bisnis Sam-goong, pihak-pihak yang terlibat saling bersepakat. Sembilan juta won untuk menghancurkan (situs) Kafe Jumda.

Berdiksusilah Tim Aleph. Membicarakan strategi dan berbagi porsi. Mereka yakin, apabila taktik tersebut dengan taat dan patuh dijalankan, uang sembilan juta won akan masuk ke dalam kantong mereka. Cara-cara licik seperti “mencuri identitas” dan membuat Internet persona bukan barang baru. Juga menimpali komentar negatif dengan ujaran yang lebih negatif. Bermain dengan psikologi anggota komunitas daring yang bersumbu pendek. Kotor dan mengerikan. Berharap cara seperti ini tidak dicoba di Indonesia meski kenyataannya memang sudah ada (Buzzerp misalnya).

Masalahnya, ini bukan perkara menghancurkan Kafe Jumda dalam satu bulan. There is more than just a blink of an eye. Pertaruhannya sudah bukan lagi kesanggupan Tim Aleph. Meski mereka paham betul bagaimana Internet (dan orang-orang di baliknya) bekerja, nyatanya mereka masih berisiko untuk ikut hanyut dalam arus deras itu. Sebab, mereka yang menguasai informasi, merekalah yang mengontrol tragedi.

Maju Mundur Cantik + “Plot Twist” = Formula Tokcer?

Chang Kang-myoung lahir di Seoul tahun 1975. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Sipil semasa berkuliah di Universitas Yonsei, ia malah menghabiskan 11 tahun masa kerjanya sebagai reporter di Harian Dong-A. Pasukan Buzzer bukanlah novel pertamanya. Meski demikian, judul inilah yang dipilih oleh Gramedia Pustaka Utama untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Cerita dibuka dengan perkenalan awal mengenai Tim Alep. Kemudian membawa masuk pembaca ke dalam plot maju-mundur. Ada narasi, deskirpsi, dan dialog. Ada transkrip rekaman antara Chatatkat dengan Lim Sang-jin. Pembaca tidak diberi penanda waktu pasti. Semuanya dipisahkan oleh bab atau jeda subbab.

Peletakan bagian narasi di awal bab memudahkan pembaca untuk membayangkan latar belakang mengapa Chatatkat berbicara dengan Lim Sang-jin. Chang Kang-myoung membangun ruang teater di dalam imaji pembaca melalui potongan transkrip sembari perlahan-lahan membeberkan detil menuju ujung nasib Tim Aleph.

…dan seperti yang sering diagungkan oleh banyak orang, Chang Kang-myoung menggunakan formula yang sudah umum: menghadirkan plot twist.

Bagi mereka yang memperhatikan bagaimana jalinan cerita Tim Aleph, penutup Pasukan Buzzer tidak terlalu mengagetkan. Apalagi posisi Tim Aleph yang sebenarnya rentan untuk dimanfaatkan sehingga akhir kisah mereka tampak “wajar saja.” Tapi apakah itu pertanda buruk untuk tulisan Chang Kang-myoung yang memenangkan Penghargaan Penulis Today 2016 lalu?

Kaya Isu Sosial-Politik, Teori dan Praktik

Semua yang dituliskan dalam Pasukan Buzzer diakui oleh Chang Kang-myoung datang dari manipulasi opini publik yang dilakukan oleh Badan Intelijen Nasional (Korea) pada 2012. Tentang intervensi peta politik demi kekuasaan. Kehadiran akun-akun anonim dengan identitas yang tidak tervalidasi/terverifikasi menyerang siapa saja yang berseberangan.

Chang Kang-myoung yang pernah menjadi seorang reporter mengerti betul caranya membingkai isu sosial-politik untuk dapat diikuti oleh pembaca. Meski rangkaiannya fiksi sekali pun. Pasukan Buzzer terkesan dekat dan nyata dengan masyarakat Korea (utamanya Korea Selatan) berkat sesuatu yang pernah terjadi di sana. Kasus Minerva, Pasukan Kereta Bayi, dan Presiden Park Geun-hye adalah beberapa yang disebut. Terdengar asing bagi pembaca Indonesia memang, tetapi penerjemah membantu dengan catatan kaki. Minimal bisa menjadi kata kunci apabila ingin mengeksplorasi.

Tidak berhenti di situ, Chang Kang-myoung juga menjelaskan tentang bagaimana politik praktis berjalan di Korea. Utamanya mengendalikan suara agar muncul keberpihakan. Membentuk sesuatu yang sifatnya mayoritas. Menjadikan Pasukan Buzzer bukanlah sebuah bacaan ringan yang bisa dianggap “cemilan.”

It Could Be Better Than This

Pasukan Buzzer barangkali bisa dimasukkan ke dalam kisah-kisah tentang sisi gelap internet bersama dengan serial Netflix berjudul Black Mirror dan novel Hong Kong, Second Sister karya Chan Ho-kei. Mengungkap tabir dua sisi mata pisau yang bisa saja dimanfaatkan oleh manusia tanpa hati nurani (atau mereka yang gelap mata).

Sayangnya, novel ini kental sekali patrarkinya. Ditulis oleh seorang laki-laki tentang sekelompok tim beranggotan laki-laki dan bergulat dengan sekelompok laki-laki lain. Tidak ada tokoh perempuan yang punya andil penting sepanjang cerita. Di mata Chang Kang-myoung, peran perempuan cuma sedangkal pemuas hasrat seksual semata. Melayani apa yang diminta oleh pria-pria kaya.

Harusnya tidak heran (tapi bukan berarti bisa dinormalisasi). Korea Selatan masih merupakan negara yang didominasi oleh masyarakat penganut patriarki. Coba saja baca artikel tentang bagaimana respon masyarakat ketika anggota Red Velvet membaca novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 karya Cho Nam-joo. Atau ketika kampanye #MeToo ramai memenuhi jalanan.

…Aku jadi meragukan para juri dalam Penghargaan Penulis Today atau Penghargaan Sastra Perdamaian Jeju 4.3 yang memenangkan Pasukan Buzzer. Jangan-jangan mereka all male panelists? πŸ€”

**

Pasukan Buzzer - Chang Kang-myoung
Diterjemahkan oleh Iingliana dari bahasa Korea "Daetgeulbudae" (λŒ“κΈ€λΆ€λŒ€)
286 halaman
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2021)

— November 29, 2021

One thought on “Pasukan Buzzer: Menyelami Propaganda (dari) Sisi Gelap Internet

  1. Ben

    Ceritanya lumayan bagus, tapi finishingnya menurutku kurang menarik. Gantung. Ga komplit. Akibatnya selesai baca, malah merasa tidak puas.

What Do You Think?