Semenjak pindah dari Kota Pahlawan ke ibukota Jakarta, mencari teman-teman yang satu frekuensi rasanya membutuhkan usaha lebih. Dulu di Surabaya, aku bisa tinggal mengontak beberapa orang dan mengajak mereka bertemu, membicarakan tentang dunia buku atau ide-ide besar kami atau sekadar menghabiskan waktu bersama dengan membaca. Sama-sama menikmati bacaan tapi pada waktu dan tempat yang sama juga.

Ketika berada di Jakarta, meski sudah pindah sejak tahun 2016 tetapi barulah pada tahun 2019 aku memiliki waktu dan kesempatan untuk mengikuti klub buku. Waktu itu berniat untuk hadir dalam Jakarta Book Club monthly meetup. Dihelat di kafe Perpustakaan Nasional pada siang hari, aku berpikir mengapa tidak memanfaatkan satu-dua jam awal untuk membaca buku saja. Semakin dipikir, semakin aku memiliki ide untuk mengajak orang lain (waktu itu baru follower ku di media sosial) untuk baca buku sama-sama. Meskipun pada percobaan pertama ini, baru satu orang saja yang muncul dan bersedia “menemani.” Rupanya, kegaiatan “menemaniku” membaca buku itu tadi ada namanya.

Kak Paramita Mohamad melalui akun Twitter-nya pernah berbagi tautan artikel dari NPR tentang silent book club. Yes, itu tadi awal mula aku membuat silent book club. Sebuah klub buku tanpa harus banyak berkata-kata.  Dalam artikel tersebut kurang lebih dituliskan bahwa sebuah klub buku tidak melulu tentang berkumpul dan membahas sesuatu secara tematik. Untuk mereka yang introvert namun tetap ingin bersosialisasi tanpa ada kewajiban untuk berbicara banyak, a silent book club mungkin bisa menjadi alternatif kegiatan. Mereka hanya perlu datang, duduk dan membaca buku yang mereka bawa. Ada sebuah perasaan yang berbeda ketika membaca buku bersama-sama (meski dengan orang asing sekalipun) di ruang publik (maksudnya di luar perpustakaan dan taman baca). 

This is it, BACA BARENG!

Belum lama, tulisanku tentang kegiatan membaca buku di ruang publik mendapat respon positif. Mengusung semangat untuk bisa menghadirkan “ruang” membaca yang suportif dan tidak menghakimi, maka aku pikir mengapa tidak mencoba meniru konsep silent book club yang ada di Amerika Serikat sana? Beramai-ramai duduk tapi semuanya asyik dan tenggelam dalam bacaan. Reading in comfortable silence.

Maka, aku beranikan diri untuk membentuk BACA BARENG – sebuah klub buku senyap yang ingin menjadi supporting group untuk mereka yang masih malu-malu untuk membaca buku di ruang publik. Untuk mereka yang takut dihakimi hanya karena format atau genre bacaan. Untuk mereka yang mungkin saja sepertiku, senang ditemani jika sedang membaca buku.

Rencananya, BACA BARENG akan aku lakukan secara rutin sebulan sekali. Waktu dan tempat akan ku informasikan melalui kanal Twitter dan Instagramku. Pastikan kamu sempat mengintai kedua akun itu ya! Aku tidak meminta kalian untuk follow kok 🙂

Apakah ada syaratnya? Tidak ada. Semua bisa ikut serta. Asal bersedia membawa bacaannya sendiri (dan jangan lupa membeli minuman/kudapan di tempat kita berkumpul ya!). Sekali lagi aku tekankan, partisipan dipersilahkan membaca dengan format apapun, genre apapun. Bahkan koran hari itu, majalah, dan komik juga termasuk sebagai bahan bacaan.

Apakah perlu mendaftar? Tidak perlu. Aku tidak mau menjadi beban untuk teman-teman yang punya keinginan. Jadi, apabila memang bisa dan sempat hadir, silakan menemuiku di titik kumpul kita. Kalau masih ragu aku orangnya yang mana, mampir saja ke Instagramku untuk melihat seperti apa wujudku.

Kegiatannya apa saja? Tidak lain dan tidak bukan adalah membaca buku. Ya, durasi 2 jam yang dipasang adalah durasi maksimal untuk kegiatan BACA BARENG. Kalau mau pamit sebelum atau sesudah, aku juga tidak akan melarang. Kalau merasa waktu 2 jam masih kurang, silakan teruskan membaca karena aku juga tidak akan menghentikan. Intinya kegiatannya adalah datang – duduk – pesan minum – baca buku. Itu saja.

Bagaimana? Bersedia menemaniku membaca buku kan? 🙂

— August 24, 2019